“Hidup Berbahagia di dalam Tuhan”
Pendahuluan
Yesus, dalam Khotbah di Bukit, tidak memulai pengajaran-Nya dengan hukum atau larangan, melainkan dengan pernyataan tentang kebahagiaan. Namun kebahagiaan yang Yesus maksud sangat berbeda dari pemahaman dunia.
Latar Belakang Teks
Matius 5:1–12 adalah bagian pembuka Khotbah di Bukit. Yesus naik ke atas bukit, duduk, dan mengajar murid-murid-Nya. Posisi duduk melambangkan otoritas seorang rabi. Di sinilah Yesus menyatakan nilai-nilai Kerajaan Allah yang sering kali bertolak belakang dengan nilai dunia.
Kata “berbahagialah” berasal dari bahasa Yunani makarios, yang tidak sekadar menunjuk pada perasaan senang, tetapi pada keadaan hidup yang diberkati Allah, hidup yang berada dalam perkenanan dan kehendak-Nya.
Isi Khotbah
1. Kebahagiaan yang Berakar pada Ketergantungan kepada Allah (ay. 3–4)
Demikian pula, orang yang berdukacita disebut berbahagia bukan karena dukanya, tetapi karena mereka membawa dukanya kepada Allah. Dalam Tuhan, air mata tidak sia-sia; ada penghiburan sejati yang melampaui penghiburan dunia.
➡ Hidup berbahagia di dalam Tuhan dimulai ketika kita berhenti mengandalkan diri sendiri dan belajar bersandar penuh kepada-Nya.
2. Kebahagiaan yang Tumbuh dalam Karakter Kristiani (ay. 5–9)
Yesus menyebut berbahagia orang yang lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, dan pembawa damai. Semua ini bukan sifat yang mudah atau populer dalam dunia yang kompetitif dan penuh ego.
Namun justru di sinilah letak kebahagiaan sejati:
-
Lemah lembut membuka ruang bagi Allah untuk bertindak.
-
Lapar akan kebenaran menjaga hati agar tidak puas dengan dosa.
-
Murah hati dan pembawa damai memantulkan karakter Allah sendiri.
➡ Kebahagiaan sejati tidak lahir dari keadaan yang nyaman, tetapi dari hidup yang selaras dengan karakter Kristus.
3. Kebahagiaan yang Tetap Bertahan di Tengah Penderitaan (ay. 10–12)
Yesus secara mengejutkan mengatakan bahwa orang yang dianiaya karena kebenaran adalah berbahagia. Ini bukan glorifikasi penderitaan, melainkan penegasan bahwa kesetiaan kepada Allah sering kali memiliki harga.
Dalam perspektif Kerajaan Allah, penderitaan karena iman bukan tanda kegagalan, melainkan tanda persekutuan dengan Kristus dan para nabi. Kebahagiaan orang percaya tidak ditentukan oleh penerimaan dunia, tetapi oleh pengharapan akan upah surgawi.
➡ Hidup berbahagia di dalam Tuhan adalah hidup yang berakar pada pengharapan kekal, bukan kenyamanan sementara.
Relevansi dengan Minggu Septuagesima
Minggu Septuagesima mengingatkan kita bahwa perjalanan iman bukan tentang hasil instan, tetapi tentang proses pembentukan. Sebelum memasuki Prapaskah, firman ini mengajak kita memeriksa kembali:
-
Apakah kita mencari kebahagiaan di luar Tuhan?
-
Apakah kita siap dibentuk, bahkan melalui penderitaan, demi hidup yang berkenan kepada-Nya?
Penutup dan Aplikasi
Saudara-saudari yang terkasih,
Hidup berbahagia di dalam Tuhan bukanlah hidup tanpa air mata, tetapi hidup yang tidak kehilangan Allah di tengah air mata. Kebahagiaan sejati bukan soal memiliki banyak, melainkan hidup dalam kehendak Tuhan.
Mari pada Minggu Septuagesima ini kita belajar memaknai ulang kebahagiaan:
bukan menurut ukuran dunia, tetapi menurut Kerajaan Allah.
Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk hidup rendah hati, lapar akan kebenaran, setia dalam penderitaan, dan penuh pengharapan di dalam Kristus.
Amin.


Post a Comment