Pendahuluan
Minggu Estomihi merupakan minggu yang mengantar jemaat memasuki masa Pra-Paskah. Kata Estomihi berasal dari Mazmur 31:3, “Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan.” Minggu ini mengingatkan jemaat bahwa sebelum memasuki penderitaan dan sengsara, kemuliaan Kristus terlebih dahulu dinyatakan. Hal ini meneguhkan iman orang percaya bahwa Yesus yang akan menderita adalah Tuhan yang mulia dan berkuasa.
Peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung menunjukkan identitas Yesus yang sesungguhnya sebagai Anak Allah. Peristiwa ini menjadi penguatan bagi para murid sebelum mereka menghadapi kenyataan bahwa Yesus harus menderita, mati, dan bangkit.
Penjelasan Nats Lukas 9:28-36
1. Kemuliaan Yesus Dinyatakan dalam Persekutuan Doa (Ayat 28-29)
Teks dimulai dengan keterangan waktu, “kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu.” Keterangan ini penting karena menghubungkan peristiwa transfigurasi dengan pengajaran Yesus sebelumnya tentang penderitaan, penyangkalan diri, dan memikul salib (Luk. 9:22-27). Dengan demikian, Lukas ingin menegaskan bahwa kemuliaan Yesus tidak dapat dipisahkan dari jalan penderitaan yang akan Ia tempuh.
Yesus mengajak Petrus, Yohanes, dan Yakobus naik ke gunung untuk berdoa. Ketiga murid ini sering menjadi saksi peristiwa penting dalam pelayanan Yesus, misalnya saat membangkitkan anak Yairus dan saat pergumulan di Getsemani. Hal ini menunjukkan bahwa mereka dipersiapkan secara khusus untuk memahami misteri keselamatan yang akan terjadi.
Gunung dalam tradisi Alkitab memiliki makna teologis yang sangat kuat. Gunung sering menjadi tempat Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia. Musa menerima hukum Taurat di Gunung Sinai, dan Elia mengalami perjumpaan dengan Allah di Gunung Horeb. Dengan membawa murid-murid ke gunung, Yesus sedang menunjukkan bahwa Ia adalah penggenapan dari pengalaman-pengalaman perjumpaan ilahi tersebut.
Ketika Yesus berdoa, terjadi perubahan rupa pada diri-Nya. Wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau. Lukas menekankan bahwa perubahan ini terjadi dalam konteks doa. Hal ini menunjukkan bahwa doa merupakan persekutuan yang mendalam antara Yesus dengan Allah Bapa. Dalam persekutuan tersebut, kemuliaan ilahi Yesus dinyatakan.
Perubahan rupa ini bukan sekadar perubahan penampilan, tetapi penyataan natur ilahi Kristus. Kemuliaan yang selama ini tersembunyi dalam kemanusiaan Yesus kini dinyatakan secara nyata. Peristiwa ini menegaskan bahwa Yesus bukan hanya guru atau nabi, melainkan Anak Allah yang memiliki kemuliaan surgawi.
Bagi orang percaya, peristiwa ini mengajarkan bahwa kehidupan doa bukan hanya kewajiban religius, melainkan sarana transformasi rohani. Dalam doa, manusia dipulihkan, diperbarui, dan dikuatkan oleh perjumpaan dengan Allah.
2. Musa dan Elia Sebagai Kesaksian Penggenapan Rencana Keselamatan (Ayat 30-31)
Munculnya Musa dan Elia memiliki makna teologis yang sangat mendalam. Musa mewakili hukum Taurat, sedangkan Elia mewakili para nabi. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa seluruh Perjanjian Lama menunjuk kepada Yesus sebagai penggenapan janji keselamatan Allah.
Percakapan mereka dengan Yesus berfokus pada “kepergian-Nya” yang akan digenapi di Yerusalem. Kata “kepergian” dalam bahasa Yunani menggunakan istilah exodos, yang mengingatkan pada peristiwa keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Hal ini menunjukkan bahwa melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus, Allah sedang menggenapi pembebasan umat manusia dari perbudakan dosa.
Dengan demikian, peristiwa ini menunjukkan kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Yesus bukan datang untuk meniadakan hukum Taurat dan nubuat para nabi, melainkan untuk menggenapinya.
Bagi jemaat, hal ini mengajarkan bahwa karya keselamatan Allah memiliki rencana yang utuh dan sempurna. Penderitaan Kristus bukan kecelakaan sejarah, melainkan bagian dari rancangan Allah untuk menyelamatkan manusia.
3. Keterbatasan Pemahaman Murid Tentang Kemuliaan Kristus (Ayat 32-33)
Ayat ini menggambarkan kondisi para murid yang mengantuk, tetapi kemudian terbangun dan melihat kemuliaan Yesus. Gambaran ini memiliki makna simbolis bahwa manusia sering tidak peka terhadap karya Allah. Ketika Allah bekerja, manusia sering berada dalam kondisi rohani yang lemah dan tidak siap.
Petrus kemudian mengusulkan untuk mendirikan tiga kemah bagi Yesus, Musa, dan Elia. Usulan ini menunjukkan keinginan Petrus untuk mempertahankan pengalaman rohani yang luar biasa tersebut. Ia ingin tinggal dalam suasana kemuliaan tanpa memahami bahwa Yesus harus melanjutkan perjalanan menuju penderitaan di salib.
Tindakan Petrus juga menunjukkan bahwa ia masih menempatkan Yesus sejajar dengan Musa dan Elia. Padahal, Yesus adalah pusat dari seluruh penyataan Allah. Lukas menegaskan bahwa Petrus berkata demikian tanpa mengetahui apa yang ia katakan, menandakan keterbatasan pemahaman manusia terhadap rencana Allah.
Bagi orang percaya, bagian ini mengingatkan bahwa pengalaman rohani tidak boleh membuat kita berhenti dalam kenyamanan spiritual. Iman Kristen menuntut kesediaan untuk mengikuti Yesus dalam seluruh perjalanan hidup, termasuk dalam penderitaan.
4. Kesaksian Allah Bapa: Mendengarkan dan Menaati Kristus (Ayat 34-35)
Kemudian awan menaungi mereka, dan para murid menjadi takut. Dalam tradisi Alkitab, awan melambangkan kehadiran Allah. Awan yang menaungi mereka menunjukkan bahwa Allah sedang hadir secara nyata di tengah peristiwa tersebut.
Dari awan itu terdengar suara Allah yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Pernyataan ini memiliki makna teologis yang sangat penting. Allah menegaskan identitas Yesus sebagai Anak-Nya yang dipilih. Pernyataan ini juga mengingatkan pada nubuat tentang Mesias dalam Perjanjian Lama.
Perintah untuk mendengarkan Yesus menegaskan bahwa otoritas tertinggi dalam iman Kristen adalah Kristus sendiri. Mendengarkan dalam pengertian Alkitab bukan hanya mendengar secara fisik, tetapi juga menaati dan menghidupi firman Tuhan.
Bagian ini mengingatkan jemaat bahwa iman Kristen tidak didasarkan pada pengalaman rohani semata, melainkan pada ketaatan terhadap firman Kristus dalam kehidupan sehari-hari
5. Yesus Sebagai Pusat Iman dan Keselamatan (Ayat 36)
Setelah suara itu terdengar, Musa dan Elia tidak lagi terlihat, dan hanya Yesus yang ada bersama para murid. Hal ini memiliki makna teologis yang sangat kuat. Musa dan Elia hanyalah saksi, sedangkan Yesus adalah pusat keselamatan.
Peristiwa ini menegaskan bahwa seluruh hukum Taurat dan nubuat para nabi menemukan penggenapannya dalam diri Kristus. Yesus adalah satu-satunya Juruselamat yang membawa manusia kepada keselamatan.
Para murid kemudian menyimpan pengalaman tersebut dan tidak menceritakannya kepada siapa pun. Hal ini menunjukkan bahwa mereka masih merenungkan makna peristiwa tersebut. Pemahaman penuh tentang kemuliaan Kristus baru akan mereka mengerti setelah kebangkitan Yesus.
Bagi orang percaya, bagian ini menegaskan bahwa Yesus harus menjadi pusat kehidupan iman, pelayanan, dan pengharapan. Dalam dunia yang penuh dengan berbagai ajaran dan nilai, orang Kristen dipanggil untuk tetap berpegang pada Kristus sebagai dasar kehidupan.


Post a Comment