Ratapan 3:49–57 dengan tema:
“Tuhan Dekat Tatkala Aku Memanggil”
(Minggu Invocavit – Berserulah kepada-Ku)
Pendahuluan: Makna Minggu Invocavit
Minggu ini menjadi pengingat bahwa Allah bukan Allah yang jauh. Ia adalah Allah yang mendengar seruan umat-Nya. Tema ini sangat relevan dengan Ratapan 3, ketika bangsa Israel berada dalam kehancuran akibat pembuangan ke Babel. Kota Yerusalem hancur, Bait Allah runtuh, dan umat merasa ditinggalkan., Namun di tengah kehancuran itu, muncul satu pengakuan iman: Tuhan dekat ketika aku memanggil.
Latar Belakang Kitab Ratapan
Kitab Ratapan secara tradisi dikaitkan dengan nabi Yeremia, yang menyaksikan langsung kehancuran Yerusalem oleh Babel (586 SM). Ratapan 3 adalah bagian yang paling personal. Penulis berbicara sebagai pribadi yang terluka, namun justru di pasal ini juga muncul pengharapan terbesar (bdk. Rat. 3:22–23). Ayat 49–57 adalah bagian doa yang lahir dari penderitaan.
Penjelasan Teks Ratapan 3:49–57
1. Air Mata yang Tak Henti (Ay. 49–51)
“Air mataku terus-menerus bercucuran...”
Tangisan di sini bukan keluhan biasa. Ini adalah tangisan yang lahir dari kehancuran kolektif. Tangisan menjadi bahasa iman ketika kata-kata sudah habis.
Dalam pelayanan, kadang ada masa di mana seorang hamba Tuhan pun merasa seperti ini—berdoa namun seolah-olah langit tertutup. Namun teks ini menunjukkan: menangis di hadapan Tuhan adalah bagian dari doa.
Air mata bukan tanda kurang iman. Justru itu ekspresi iman yang jujur.
2. Dari Lubang yang Paling Dalam (Ay. 52–54)
“Aku diperlakukan seperti burung yang diburu... Mereka melemparkan aku ke dalam lobang...”
“Lubang” adalah simbol keadaan tanpa harapan. Dalam tradisi Israel, lubang sering menggambarkan kematian atau Sheol.
Secara rohani, ini bisa berarti:
-
Keputusasaan
-
Tekanan pelayanan
-
Tuduhan yang tidak adil
-
Pergumulan batin
Penulis berkata, “Sudah lenyap hidupku.” Ini adalah titik nadir iman.
Namun perhatikan: ia tetap berseru.
3. Berseru dan Didengar (Ay. 55–56)
“Aku menyeru nama-Mu, ya TUHAN, dari dasar lobang yang dalam. Engkau mendengar suaraku...”
Kata “menyeru nama-Mu” menunjukkan relasi. Ia tidak berseru kepada ilah asing, tetapi kepada Allah perjanjian.
Allah mungkin tampak diam, tetapi Ia tidak tuli.
Seruan iman tidak pernah hilang di hadapan Tuhan.
4. Tuhan Mendekat (Ay. 57)
“Engkau datang mendekat pada waktu aku memanggil-Mu; Engkau berfirman: Jangan takut!”
Inilah klimaks teks ini.
Allah bukan hanya mendengar dari jauh—Ia mendekat.
Kehadiran Tuhan mengubah situasi batin sebelum situasi luar berubah. Kota mungkin masih hancur, masalah belum selesai, tetapi ketakutan digantikan oleh damai.
Kalimat “Jangan takut” adalah kalimat ilahi yang berulang kali muncul dalam Alkitab ketika Allah menyatakan diri-Nya.
Relevansi Teologis
1. Tuhan Tidak Selalu Mengangkat Kita dari Lubang Seketika
Kadang Ia justru masuk ke dalam lubang itu bersama kita.
2. Seruan adalah Tindakan Iman
Invocavit mengajarkan bahwa berseru bukan tanda kelemahan, melainkan pengakuan ketergantungan.
3. Kedekatan Tuhan Lebih Besar dari Penderitaan
Ratapan bukan kitab keputusasaan, melainkan kitab pengharapan yang lahir dari kesedihan.
Aplikasi Bagi Jemaat dan Pelayanan
-
Dalam pergumulan pribadi – teruslah berseru.
-
Dalam pelayanan yang terasa berat – Tuhan tidak jauh.
-
Dalam tangisan yang tersembunyi – Tuhan mendengar.
-
Dalam situasi bangsa atau gereja yang sulit – Allah tetap setia.
Bagi seorang pengkhotbah atau pelayan Tuhan, mungkin ada masa merasa seperti Ratapan 3:54: “Sudah lenyap hidupku.” Tetapi Minggu Invocavit mengingatkan: Tuhan dekat ketika engkau memanggil.
Penutup
Minggu Invocavit bukan hanya ajakan untuk berdoa, tetapi undangan untuk percaya bahwa:
-
Tuhan mendengar.
-
Tuhan mendekat.
-
Tuhan berkata: “Jangan takut.”
Mungkin hari ini kita masih di “dasar lobang”.
Namun iman berkata: Tuhan lebih dekat dari yang kita rasakan.


Post a Comment