wvsOdYmDaT9SQhoksZrPLG0gYqduIOCNl12L9d9t

Khotbah Jumaat Agung 3 April 2026

 


 khotbah  dari Matius 27:45–54 (kemungkinan ayat yang dimaksud), dengan tema: “Sungguh, Yesus adalah Anak Allah”


1. Pendahuluan

Salib sering dipandang sebagai simbol penderitaan, kehinaan, dan kekalahan. Namun dalam iman Kristen, justru di saliblah kemuliaan Allah dinyatakan secara paling nyata. Di tengah kegelapan, ejekan, dan kematian, lahir sebuah pengakuan iman yang sangat kuat: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah!” (Mat. 27:54).

Menariknya, pengakuan ini bukan datang dari orang yang dekat dengan Yesus, melainkan dari seorang perwira Romawi—seorang yang sebelumnya tidak mengenal Dia. Hal ini menunjukkan bahwa karya Allah di dalam Kristus melampaui batas-batas manusia, bahkan dapat membuka mata orang yang paling jauh sekalipun.

Tema ini mengajak jemaat untuk melihat bahwa melalui penderitaan dan kematian Yesus, identitas-Nya sebagai Anak Allah dinyatakan dengan jelas dan tidak terbantahkan.

2. Latar Belakang Kitab

Injil Matius ditulis dengan tujuan utama untuk menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama. Penulis banyak mengutip nubuat-nubuat untuk menunjukkan bahwa kehidupan Yesus adalah penggenapan rencana Allah.

Pasal 27 merupakan bagian dari kisah sengsara (passion narrative), yang menggambarkan penyaliban Yesus oleh kekuasaan Romawi atas desakan pemimpin agama Yahudi. Dalam konteks sejarah, penyaliban adalah hukuman yang sangat kejam dan memalukan, biasanya diberikan kepada pemberontak dan penjahat berat.

Namun Matius justru menampilkan bahwa di balik penderitaan itu, ada makna teologis yang dalam: Yesus sedang menggenapi rencana keselamatan Allah. Kematian-Nya bukan kecelakaan sejarah, melainkan bagian dari kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia.

3. Penjelasan / Tafsiran

a. Kegelapan meliputi seluruh daerah (ayat 45)
Dari jam dua belas sampai jam tiga, terjadi kegelapan di seluruh daerah itu. Ini bukan sekadar fenomena alam, tetapi tanda ilahi. Dalam tradisi Perjanjian Lama, kegelapan sering melambangkan penghakiman Allah atas dosa manusia.
Di sini, Yesus sedang menanggung dosa dunia, sehingga seluruh ciptaan seakan turut berduka.

b. Seruan penderitaan Yesus (ayat 46)
Yesus berseru: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” yang berarti “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Ini adalah kutipan dari Mazmur 22:1. Seruan ini menunjukkan kedalaman penderitaan Yesus sebagai manusia sejati. Ia merasakan keterpisahan yang seharusnya ditanggung manusia berdosa.
Namun ini juga menunjukkan bahwa Yesus tetap berseru kepada Allah—relasi itu tidak putus.

c. Kesalahpahaman orang banyak (ayat 47–49)
Orang-orang yang mendengar mengira Yesus memanggil Elia. Ini menunjukkan kebutaan rohani manusia. Bahkan ketika Allah sedang bekerja secara nyata, manusia bisa salah memahami.

d. Kematian Yesus (ayat 50)
Yesus berseru lagi dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Ini menunjukkan bahwa kematian Yesus adalah tindakan yang sadar dan sukarela. Ia menyerahkan hidup-Nya sebagai korban bagi dosa manusia.

e. Tabir Bait Suci terbelah (ayat 51)
Tabir yang memisahkan Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus terbelah dua dari atas ke bawah. Ini adalah simbol yang sangat kuat bahwa melalui kematian Yesus, penghalang antara Allah dan manusia telah disingkirkan.
Sekarang, setiap orang memiliki akses langsung kepada Allah.

f. Gempa bumi dan tanda-tanda kosmis (ayat 51–53)
Terjadi gempa bumi, batu-batu terbelah, dan kuburan terbuka. Bahkan orang-orang kudus bangkit. Ini menunjukkan bahwa kematian Yesus mengguncang seluruh ciptaan.
Peristiwa ini menandakan bahwa kematian bukan lagi akhir—kuasa maut mulai dikalahkan.

g. Pengakuan perwira dan para prajurit (ayat 54)
Melihat semua yang terjadi, perwira dan orang-orang yang bersama dia berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah!”
Ini adalah klimaks dari perikop ini. Orang yang sebelumnya berada di luar iman justru mengakui kebenaran tentang Yesus.
Salib yang tampak sebagai kekalahan ternyata menjadi alat penyataan kemuliaan Allah.

h. Kehadiran perempuan-perempuan yang setia (ayat 55–56)
Beberapa perempuan seperti Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf, serta ibu anak-anak Zebedeus menyaksikan dari jauh.
Di saat banyak murid laki-laki melarikan diri, perempuan-perempuan ini tetap setia. Ini menunjukkan bahwa kesetiaan tidak ditentukan oleh posisi, tetapi oleh hati.

4. Relevansi dalam Kehidupan Berjemaat

Pertama, jemaat diajak untuk memahami bahwa penderitaan bukan berarti Allah tidak hadir. Justru melalui penderitaan Yesus, kita melihat bahwa Allah bekerja dalam cara yang sering tidak kita mengerti. Dalam pergumulan hidup—baik sakit, masalah keluarga, maupun tekanan hidup—kita diajak tetap percaya.

Kedua, pengakuan iman harus lahir dari pengalaman pribadi dengan Tuhan. Perwira Romawi mengakui Yesus setelah melihat apa yang terjadi. Demikian juga jemaat, iman tidak boleh hanya diwarisi, tetapi harus dialami secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, terbukanya tabir Bait Suci mengingatkan bahwa setiap orang percaya memiliki hubungan langsung dengan Allah. Ini mendorong jemaat untuk hidup dalam doa, penyembahan, dan kedekatan dengan Tuhan tanpa merasa jauh atau tidak layak.

Keempat, teladan perempuan-perempuan yang setia mengajarkan bahwa dalam situasi sulit, jemaat dipanggil untuk tetap setia. Ketika banyak orang mundur dari iman karena tekanan hidup, orang percaya justru harus tetap berdiri teguh.

Kelima, pengakuan “Yesus adalah Anak Allah” harus tercermin dalam hidup. Ini berarti hidup dalam ketaatan, kasih, pengorbanan, dan kerendahan hati, sebagaimana Kristus telah memberikan diri-Nya bagi kita.

Penutup

Peristiwa salib bukan sekadar kisah penderitaan, tetapi pusat dari iman Kristen. Di tengah kegelapan, Allah menyatakan terang-Nya. Di tengah kematian, Allah menghadirkan kehidupan.

Dan dari salib itu, gema pengakuan iman terus terdengar hingga hari ini:

“Sungguh, Yesus adalah Anak Allah.”

Kiranya pengakuan ini hidup dalam hati dan nyata dalam kehidupan kita sebagai jemaat Tuhan. Amin.

OlderNewest

Post a Comment

silakan Komentar dengan baik
Total Pageviews
Times/ Waktu
Waktu di Kota Medan: