Minggu PALMARUM (Pesta Palma) dengan tema:
“Yesus Kristus adalah Tuhan”
berdasarkan Filipi 2:5-11.
Pendahuluan
Minggu Palmarum mengingatkan kita pada peristiwa ketika Yesus masuk ke Yerusalem dan disambut dengan sorak-sorai: “Hosana!” Orang banyak menghamparkan daun palma sebagai tanda penghormatan kepada seorang raja. Namun, ada ironi besar: Raja yang mereka sambut bukanlah raja seperti yang mereka bayangkan.
Bacaan kita dari Filipi 2:5-11 justru menunjukkan siapa Yesus sebenarnya—Dia adalah Tuhan, tetapi memilih jalan kerendahan, penderitaan, bahkan kematian di kayu salib. Inilah inti iman Kristen: kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui kerendahan.
Latar Belakang Kitab Filipi
Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus saat ia berada dalam penjara. Jemaat di Filipi adalah jemaat yang ia kasihi. Dalam kondisi sulit, Paulus tidak berbicara tentang keputusasaan, tetapi tentang sukacita dan kerendahan hati dalam Kristus.
Filipi 2:5-11 diyakini sebagai sebuah himne atau nyanyian jemaat mula-mula yang menggambarkan:
- Keilahian Kristus
- Kerendahan-Nya
- Ketaatan-Nya
- Pemuliaan-Nya oleh Allah
Ini menjadi dasar teologis bahwa Yesus bukan hanya Guru atau Nabi, tetapi Tuhan.
Isi dan Penjelasan Khotbah (Filipi 2:5-11)
a. Ayat 5 – Memiliki Pikiran dan Perasaan Kristus
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”
Ayat ini adalah dasar dari seluruh bagian ini. Paulus tidak langsung berbicara tentang siapa Yesus, tetapi terlebih dahulu mengarahkan jemaat: cara hidup orang percaya harus mencerminkan Kristus.
Kata “pikiran dan perasaan” menunjuk pada sikap batin, cara berpikir, dan cara memandang orang lain. Ini berarti iman Kristen bukan hanya soal doktrin, tetapi tentang transformasi hati.
Dalam konteks jemaat Filipi, ada kecenderungan perselisihan dan ego. Karena itu Paulus menegaskan bahwa kehidupan bersama harus dibangun bukan atas kepentingan diri, tetapi atas kerendahan hati.
Dalam terang Minggu Palmarum, ini sangat relevan:
Orang banyak menyambut Yesus dengan sukacita, tetapi hati mereka belum sungguh memahami siapa Dia. Mereka menginginkan Mesias yang memenuhi harapan mereka, bukan yang mengikuti kehendak Allah.
b. Ayat 6 – Yesus adalah Allah yang Tidak Mempertahankan Hak-Nya
“yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.”
Ayat ini menegaskan bahwa Yesus adalah Allah sejati. Ia memiliki “rupa Allah,” artinya memiliki natur ilahi.
Namun yang mengejutkan adalah:
Yesus tidak menggunakan keilahian-Nya untuk kepentingan diri sendiri. Ia tidak mempertahankan hak-hak ilahi-Nya sebagai sesuatu yang harus dipertahankan dengan ego.
Dalam dunia manusia, kekuasaan sering dipertahankan mati-matian. Orang ingin dihormati, diakui, dan ditinggikan. Tetapi Yesus justru melakukan hal yang sebaliknya.
Dalam peristiwa Palmarum:
Orang banyak mengharapkan Yesus tampil sebagai raja politik yang kuat. Tetapi Yesus tidak datang dengan kekuatan militer, melainkan dengan kelembutan.
Makna teologis:
Keilahian Yesus tidak ditunjukkan melalui dominasi, tetapi melalui kasih dan kerelaan untuk merendahkan diri.
c. Ayat 7 – Mengosongkan Diri dan Menjadi Hamba
“melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”
Istilah “mengosongkan diri” (kenosis) tidak berarti Yesus berhenti menjadi Allah, tetapi Ia melepaskan kemuliaan-Nya dan memilih untuk hidup sebagai manusia.
Ia bukan hanya menjadi manusia, tetapi menjadi hamba. Dalam budaya saat itu, hamba adalah posisi paling rendah—tidak memiliki hak, tidak dihormati.
Ini menunjukkan betapa dalamnya kasih Allah:
- Dari kemuliaan ke kerendahan
- Dari takhta ke pelayanan
- Dari Allah menjadi hamba
Dalam Palmarum:
Yesus masuk Yerusalem dengan menunggang keledai—bukan simbol raja perang, tetapi raja damai. Ini adalah gambaran nyata dari “mengosongkan diri.”
d. Ayat 8 – Kerendahan yang Sempurna: Taat Sampai Mati
“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Yesus tidak hanya menjadi manusia—Ia juga hidup dalam ketaatan total kepada kehendak Allah Bapa.
Ketaatan ini mencapai puncaknya di kayu salib.
Salib pada zaman itu adalah hukuman paling hina, diperuntukkan bagi penjahat dan budak.
Artinya:
- Yesus yang tidak berdosa rela menerima hukuman orang berdosa
- Ia tidak hanya menderita, tetapi juga dipermalukan
Dalam konteks Palmarum:
Sorak-sorai “Hosana” hanyalah awal. Jalan Yesus berakhir di salib. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan sejati tidak selalu terlihat indah di mata manusia.
Makna teologis:
Keselamatan manusia terjadi melalui ketaatan Kristus, bukan kekuatan manusia.
e. Ayat 9-11 – Pemuliaan: Yesus adalah Tuhan
“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama…”
Bagian ini menunjukkan bahwa jalan salib bukan akhir. Karena ketaatan-Nya, Allah meninggikan Yesus.
“Nama di atas segala nama” berarti otoritas tertinggi.
Yesus bukan hanya Juruselamat, tetapi Tuhan atas segala sesuatu.
“Setiap lutut bertelut” dan “setiap lidah mengaku” menunjukkan bahwa suatu hari nanti semua ciptaan akan mengakui keilahian Kristus—baik yang percaya maupun tidak.
Dalam Palmarum:
Orang banyak mengakui Yesus sebagai raja, tetapi belum sepenuhnya memahami bahwa Dia adalah Tuhan atas seluruh hidup.
Makna teologis:
Yesus yang direndahkan adalah Yesus yang dimuliakan. Salib dan kemuliaan tidak dapat dipisahkan.


Post a Comment