wvsOdYmDaT9SQhoksZrPLG0gYqduIOCNl12L9d9t

Khotbah Minggu 31 Mei 2026

 

Tema: Menjadi Saksi Allah Tritunggal

Bacaan: Matius 28:16–20


Salam sejahtera dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, pada Minggu Trinitas ini kita diajak untuk merenungkan Allah yang kita sembah: Allah yang esa, namun hadir sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kebenaran ini bukan hanya untuk dipahami secara teori, tetapi untuk dihidupi dalam iman dan kesaksian kita setiap hari. Dalam Matius 28:16–20, Tuhan Yesus memberikan Amanat Agung kepada murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke sorga. Di dalam perintah ini, kita melihat dengan jelas karya Allah Tritunggal: Bapa yang mengutus, Putra yang memberi kuasa dan menyelamatkan, serta Roh Kudus yang menyertai dan memampukan gereja.

Ayat ini diawali dengan perjumpaan para murid dengan Yesus di bukit yang telah ditentukan-Nya. Alkitab mengatakan bahwa ketika mereka melihat Dia, mereka menyembah-Nya, walaupun ada di antara mereka yang ragu-ragu. Ini menunjukkan bahwa iman Kristen bukan berarti tidak pernah ragu, tetapi tetap datang kepada Kristus dan bersedia tunduk menyembah Dia. Minggu Trinitas mengingatkan kita bahwa Allah bukan Allah yang jauh dan tidak peduli, melainkan Allah yang mendekat kepada manusia melalui Yesus Kristus. Ia hadir, berbicara, memanggil, dan mengutus umat-Nya.

Pertama, menjadi saksi Allah Tritunggal berarti hidup dalam penyembahan yang benar kepada Kristus. Para murid jatuh tersungkur di hadapan Yesus. Ini penting, karena kesaksian yang sejati lahir dari hati yang terlebih dahulu menyembah. Kita tidak mungkin menjadi saksi Allah Tritunggal jika hidup kita tidak sungguh-sungguh menghormati Tuhan. Kesaksian bukan hanya soal berbicara tentang Allah, tetapi terutama soal hidup yang memuliakan Allah. Di rumah, di gereja, di tempat kerja, dan di tengah masyarakat, kita dipanggil untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan.

Kedua, menjadi saksi Allah Tritunggal berarti menerima mandat dari Kristus. Yesus berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Perintah ini bukan hanya untuk para rasul, tetapi juga untuk seluruh gereja. Kata “pergilah” menunjukkan bahwa kesaksian tidak boleh berhenti di dalam tembok gereja. Gereja dipanggil keluar, hadir di tengah dunia, membawa kabar baik tentang keselamatan. Menjadi saksi Allah Tritunggal berarti kita memberitakan bahwa Bapa mengasihi dunia, Putra telah menebus manusia dari dosa, dan Roh Kudus terus bekerja memperbaharui hati manusia. Injil bukan hanya berita untuk didengar, tetapi kabar keselamatan yang harus dibagikan.

Ketiga, menjadi saksi Allah Tritunggal berarti membaptis dan mengajar dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dalam ayat 19–20, Yesus dengan sangat jelas menyebutkan nama Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa kehidupan Kristen berakar di dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal. Baptisan bukan sekadar simbol, melainkan tanda bahwa seseorang masuk ke dalam hidup baru bersama Allah. Pengajaran juga sangat penting, sebab seorang murid Kristus tidak cukup hanya percaya sesaat, tetapi harus terus bertumbuh dalam firman Tuhan. Kesaksian yang sejati selalu disertai pembinaan iman, supaya orang percaya semakin dewasa dan teguh di dalam Kristus.

Keempat, menjadi saksi Allah Tritunggal tidak dilakukan dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan penyertaan Kristus. Yesus menutup Amanat Agung dengan janji yang indah: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Janji ini memberi kekuatan besar bagi gereja. Dalam tugas yang berat untuk bersaksi, kita tidak sendiri. Kristus yang bangkit menyertai kita. Roh Kudus juga bekerja di dalam kita, memberi keberanian, hikmat, dan kuasa. Karena itu, kesaksian gereja bukan bergantung pada kemampuan manusia, melainkan pada penyertaan Allah Tritunggal yang setia.

Saudara-saudari, Minggu Trinitas mengajak kita untuk mengerti bahwa Allah Tritunggal bukan hanya doktrin, melainkan sumber hidup dan misi gereja. Bapa mengasihi dan mengutus, Putra menebus dan memerintah, Roh Kudus menguatkan dan memimpin. Karena itu, mari kita menjadi saksi yang hidup, saksi yang benar, dan saksi yang setia. Kesaksian itu dimulai dari rumah tangga, lingkungan, pergaulan, dan pelayanan kita. Dunia membutuhkan orang-orang percaya yang tidak hanya berkata-kata tentang Tuhan, tetapi juga mencerminkan kasih, kebenaran, dan kekudusan Allah.

Pada akhirnya, marilah kita memohon agar Tuhan menolong kita menjadi saksi Allah Tritunggal yang sejati. Kiranya hidup kita menyatakan kemuliaan Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kiranya gereja Tuhan tidak diam, tetapi pergi, menjadikan semua bangsa murid Kristus, dan hidup di dalam penyertaan-Nya sampai akhir zaman.

Amin.

Post a Comment

silakan Komentar dengan baik
Total Pageviews
Times/ Waktu
Waktu di Kota Medan: