wvsOdYmDaT9SQhoksZrPLG0gYqduIOCNl12L9d9t

Khotbah minggu 12 Juli 2026

 

Khotbah Minggu VI Setelah Trinitatis

Tema: Saling Menolong (Keramahtamahan Kristen) Nats Pembimbing: 3 Yohanes 1:5-8

1. Pendahuluan

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, selamat pagi dan selamat hari Minggu.

Mari kita bayangkan sejenak. Kalau tiba-tiba ada tamu atau kerabat jauh yang datang ke rumah kita dan berniat menumpang menginap selama beberapa hari, kira-kira bagaimana perasaan kita? Tentu ada rasa senang bisa bersilaturahmi. Tapi kalau kita mau jujur, kadang ada juga sedikit rasa repot, bukan? Kita harus memikirkan menu makanan tambahan, membereskan kamar tidur, dan menyisihkan waktu di tengah kesibukan kita. Menyambut tamu itu butuh pengorbanan.

Namun, firman Tuhan hari ini dari surat 3 Yohanes mengajak kita melihat hal ini dari sudut pandang yang berbeda. Ternyata, menyambut tamu, bersikap ramah, dan menolong orang lain itu bukan sekadar tata krama atau kewajiban sosial biasa. Di mata Tuhan, itu adalah wujud nyata dari iman kita.

Tema ibadah kita pada Minggu VI Setelah Trinitatis ini adalah "Saling Menolong". Kita akan belajar dari seorang tokoh Alkitab bernama Gayus. Ia dipuji luar biasa oleh Rasul Yohanes karena kebaikannya menolong saudara-saudara seiman, bahkan kepada orang-orang yang sama sekali belum pernah ia kenal.

Mari kita buka hati kita untuk belajar dari keteladanan Gayus hari ini.

2. Latar Belakang Kitab

Sebelum kita membahas ayat-ayatnya, mari kita mundur sejenak ke abad pertama, ke zaman gereja mula-mula. Bayangkan hidup sebagai orang Kristen di masa itu. Belum ada gedung gereja yang nyaman seperti sekarang, dan belum ada hotel atau penginapan yang aman.

Pada zaman itu, banyak hamba Tuhan, penginjil, dan guru-guru Kristen yang bepergian berjalan kaki dari satu kota ke kota lain untuk menyebarkan Injil. Perjalanan mereka sangat melelahkan dan penuh bahaya. Kalau mereka mau menginap di penginapan umum, tempatnya sering kali kotor, mahal, dan rawan kejahatan.

Oleh karena itu, para penginjil ini sangat bergantung pada kebaikan hati orang-orang Kristen di kota yang mereka kunjungi. Mereka butuh tempat untuk numpang tidur, makan, dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Nah, surat 3 Yohanes ini ditulis karena ada masalah di sebuah gereja. Ada seorang pemimpin bernama Diotrefes yang sangat egois. Ia tidak mau menolong para penginjil yang datang, bahkan mengusir jemaat yang mau menolong mereka. Sangat menyedihkan. Di tengah situasi yang egois itulah, Rasul Yohanes menulis surat untuk memuji seorang bapak bernama Gayus. Gayus ini kebalikan dari Diotrefes; hatinya sangat luas dan rumahnya selalu terbuka untuk menolong para pelayan Tuhan.

3. Penjelasan Nats (3 Yohanes 1:5-8)

Mari kita perhatikan apa yang membuat Gayus begitu istimewa di mata Tuhan melalui pembacaan 3 Yohanes 1:5-8:

(5) Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.

Pertama, Menolong Tanpa Pilih Kasih. Yohanes sangat bangga pada Gayus. Gayus menolong bukan hanya teman dekatnya atau keluarganya saja. Ia menolong "orang-orang asing"—orang yang mungkin baru pertama kali ia temui. Mengapa Gayus mau repot-repot? Karena mereka disatukan oleh iman kepada Yesus. Kasih Kristus di hati Gayus menghancurkan tembok kecurigaan. Ini mengajarkan kita bahwa kasih Kristen itu menembus batas-batas pertemanan kita. Menolong sesama adalah bukti nyata bahwa kita adalah orang percaya.

(6) Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, jikalau engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.

Kedua, Memberikan yang Terbaik untuk Tuhan. Kebaikan Gayus tidak bisa disembunyikan. Orang-orang yang ditolongnya bercerita ke mana-mana betapa baiknya Gayus. Tapi perhatikan kalimat terakhir di ayat ini: "menolong... dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah."

Artinya, Gayus tidak menolong dengan asal-asalan. Ia tidak memberikan makanan sisa atau kamar yang berantakan. Ia melayani tamu-tamunya dengan sangat baik, seolah-olah ia sedang menyambut Tuhan Yesus sendiri di rumahnya. Kalau kita menolong orang, apakah kita sudah memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki, dengan cara yang menyenangkan hati Tuhan?

(7) Sebab karena nama-Nya mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatupun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah.

Ketiga, Pelayanan yang Tulus. Para penginjil yang ditolong Gayus ini bekerja murni karena Yesus ("karena nama-Nya"). Mereka rela menderita bukan demi uang atau jabatan. Mereka juga tidak mau meminta-minta kepada orang yang tidak percaya, agar Injil tidak dianggap sebagai sarana cari untung. Karena mereka begitu tulus melayani Tuhan, maka wajarlah kalau sesama orang Kristen—seperti Gayus—yang harus maju untuk menjamin kehidupan dan kebutuhan mereka.

(8) Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh mengambil bagian dalam pekerjaan untuk kebenaran.

Keempat, Kita Adalah Rekan Sekerja Allah. Ini adalah ayat kuncinya, Bapak/Ibu. Yohanes berkata kita "wajib menerima orang-orang yang demikian". Mengapa wajib? Jawabannya luar biasa: "supaya kita boleh mengambil bagian dalam pekerjaan untuk kebenaran."

Bapak/Ibu, mungkin tidak semua dari kita dipanggil untuk jadi pendeta, misionaris ke pedalaman, atau penginjil keliling. Pekerjaan kita mungkin di kantor, berdagang di pasar, menjaga anak di rumah, atau bersekolah. Tetapi, ketika kita memberikan dukungan—entah itu uang, doa, makanan, atau tumpangan—kepada mereka yang melayani Tuhan, kita otomatis menjadi tim mereka! Kita ikut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Di mata Tuhan, orang yang berkhotbah di depan dan orang yang menyiapkan air minum atau mendukung dana dari belakang, sama-sama sedang mengerjakan kebenaran.

4. Penutup

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari terkasih,

Melalui minggu "Saling Menolong" ini, firman Tuhan menegur dan sekaligus menguatkan kita. Kisah Gayus memberikan kita tiga aplikasi praktis untuk hidup sehari-hari:

  1. Jadilah orang yang ramah dan suka menolong. Di zaman modern ini, menolong tidak selalu berarti memberi tumpangan menginap. Bentuknya bisa bermacam-macam: memberikan senyuman dan sapaan hangat kepada orang baru di gereja, menjenguk teman yang sakit, mendengarkan keluh kesah rekan kerja, atau memberi tumpangan kendaraan seusai ibadah.

  2. Lakukanlah segalanya seperti untuk Tuhan. Ketika kita menolong, lakukanlah dengan hati yang tulus dan berikan yang terbaik. Jangan bersungut-sungut, karena pada hakikatnya kita sedang melayani Tuhan sendiri.

  3. Dukunglah pelayanan gereja. Jangan pernah meremehkan apa yang bisa kita berikan. Sedikit waktu, tenaga, atau persembahan yang kita berikan untuk mendukung pelayanan di gereja membuat kita menjadi "rekan sekerja Allah".

Di tengah dunia yang semakin cuek dan egois, mari kita memilih untuk menjadi seperti Gayus. Jadikanlah gereja kita, keluarga kita, dan diri kita sendiri sebagai tempat di mana orang lain bisa merasakan kehangatan kasih Kristus melalui tangan kita yang mau saling menolong.

Tuhan Yesus memberkati kita semua untuk menjadi pelaku firman-Nya. Amin.

Post a Comment

silakan Komentar dengan baik
Total Pageviews
Times/ Waktu
Waktu di Kota Medan: