KHOTBAH 2 PETRUS 1:3–11Tema: Dipanggil dan Dipilih Allah
1. Pendahuluan
Setiap orang percaya memiliki panggilan yang berasal dari Allah. Kita tidak menjadi pengikut Kristus hanya karena kebetulan, tradisi keluarga, atau keinginan pribadi, tetapi karena Allah sendiri telah memanggil kita kepada kehidupan yang berkenan kepada-Nya. Panggilan Allah bukan hanya berbicara tentang siapa yang dipakai untuk menjadi pendeta, penatua, guru sekolah minggu, atau pelayan gereja, tetapi berbicara tentang setiap orang yang percaya kepada Kristus. Ketika Allah memanggil dan memilih kita, Ia juga memberikan segala sesuatu yang kita perlukan untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, panggilan itu harus diwujudkan dalam pertumbuhan iman dan kehidupan yang benar. Karena itu, 2 Petrus 1:3–11 mengajarkan bahwa orang yang dipanggil dan dipilih Allah tidak boleh berhenti pada pengakuan iman saja, tetapi harus terus bertumbuh dalam karakter Kristiani dan menghasilkan buah dalam kehidupannya.
2. Latar Belakang Kitab 2 Petrus 1
Surat 2 Petrus merupakan surat yang memberikan nasihat kepada orang-orang percaya agar tetap teguh dalam iman di tengah berbagai tantangan, khususnya munculnya guru-guru palsu yang membawa ajaran yang menyesatkan. Dalam pasal pertama, penulis mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya harus terus mengalami pertumbuhan. Iman kepada Kristus bukan sesuatu yang pasif, melainkan harus disertai dengan kesungguhan untuk membangun kehidupan yang semakin menyerupai Kristus. 2 Petrus 1:3–11 secara khusus menegaskan bahwa Allah telah memberikan segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh, bahkan memberikan janji-janji-Nya supaya orang percaya dapat mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk menambahkan kepada iman berbagai kebajikan seperti kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan kasih kepada semua orang. Pertumbuhan tersebut menjadi tanda bahwa panggilan dan pilihan Allah sungguh-sungguh diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Tafsiran Per Ayat
Ayat 3: Ayat ini menegaskan bahwa kuasa ilahi Allah telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh. Artinya, Allah tidak memanggil manusia lalu membiarkannya berjalan sendiri, tetapi Allah juga menyediakan pertolongan dan anugerah yang diperlukan untuk menjalani panggilan tersebut. Semua itu diberikan melalui pengenalan kita akan Dia yang telah memanggil kita dengan kuasa dan kemuliaan-Nya. Pengenalan akan Kristus bukan hanya mengetahui tentang siapa Yesus, tetapi memiliki hubungan yang benar dengan-Nya. Dengan demikian, kehidupan yang saleh bukan semata-mata hasil kekuatan manusia, melainkan merupakan respons terhadap anugerah Allah yang terlebih dahulu bekerja dalam hidup kita.
Ayat 4: Pada ayat ini Petrus menjelaskan bahwa melalui kemuliaan dan kebajikan-Nya, Allah telah mengaruniakan janji-janji yang sangat besar dan berharga. Janji Allah memungkinkan orang percaya mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan terlepas dari kebinasaan dunia yang disebabkan oleh keinginan-keinginan yang jahat. Mengambil bagian dalam kodrat ilahi tidak berarti manusia menjadi Allah, tetapi manusia menerima kehidupan baru yang berasal dari karya Allah dan semakin mencerminkan sifat-Nya. Karena itu, orang yang telah dipanggil dan dipilih Allah harus meninggalkan pola kehidupan lama dan hidup dalam kekudusan, sebab ia telah menerima kehidupan yang baru di dalam Kristus.
Ayat 5: Petrus kemudian berkata bahwa justru karena semua anugerah tersebut, orang percaya harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imannya kebajikan. Di sini terlihat bahwa anugerah Allah tidak membuat manusia menjadi malas secara rohani. Iman harus disertai tindakan dan kesungguhan. Orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus akan berusaha menunjukkan imannya melalui kehidupan yang baik. Iman menjadi dasar, sedangkan kebajikan menjadi salah satu bentuk nyata dari iman tersebut. Karena itu, dipanggil dan dipilih Allah berarti bersedia bertumbuh dan mengerjakan iman dalam kehidupan nyata.
Ayat 6: Setelah kebajikan, orang percaya diminta menambahkan pengetahuan, penguasaan diri, dan ketekunan. Pengetahuan berbicara tentang kemampuan memahami kehendak Allah dan membedakan yang benar dari yang salah. Namun, pengetahuan saja tidak cukup apabila tidak disertai penguasaan diri. Orang yang mengenal Firman Tuhan harus mampu mengendalikan perkataan, keinginan, emosi, dan tindakannya. Penguasaan diri itu kemudian harus disertai ketekunan, yaitu kesediaan untuk tetap setia sekalipun menghadapi kesulitan dan pencobaan. Dengan demikian, pertumbuhan iman bukan hanya membuat seseorang semakin pintar memahami Firman, tetapi juga semakin mampu mengendalikan diri dan bertahan dalam kesetiaan kepada Tuhan.
Ayat 7: Pertumbuhan berikutnya adalah kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan kasih kepada semua orang. Kesalehan menunjukkan kehidupan yang menghormati Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kesalehan kemudian harus diwujudkan melalui kasih kepada sesama orang percaya. Gereja bukan hanya tempat berkumpul dan beribadah, tetapi juga tempat untuk saling memperhatikan, menopang, mengampuni, dan melayani. Bahkan kasih itu diperluas kepada semua orang. Jadi, orang yang benar-benar hidup dalam panggilan Allah bukan hanya memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, tetapi juga membangun hubungan yang baik dengan sesama melalui kasih yang nyata.
Ayat 8: Petrus mengatakan bahwa apabila semuanya itu ada dan semakin bertambah dalam kehidupan orang percaya, maka ia tidak akan menjadi orang yang tidak berguna atau tidak berbuah dalam pengenalan akan Yesus Kristus. Ini berarti tanda kehidupan rohani yang sehat adalah adanya pertumbuhan dan buah. Orang percaya tidak dipanggil untuk tetap sama dari tahun ke tahun. Semakin kita mengenal Kristus, seharusnya semakin terlihat perubahan dalam karakter, sikap, perkataan, dan tindakan. Gereja membutuhkan orang-orang percaya yang tidak hanya rajin hadir dalam ibadah, tetapi juga menghasilkan buah melalui kehidupan yang menjadi berkat bagi keluarga, jemaat, dan masyarakat.
Ayat 9: Sebaliknya, orang yang tidak memiliki pertumbuhan dalam karakter Kristiani digambarkan sebagai orang yang menjadi buta atau rabun dekat, sehingga ia lupa bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Ketika seseorang tidak lagi bertumbuh secara rohani, ia mudah kehilangan kesadaran akan kasih karunia Allah. Ia bisa kembali hidup menurut keinginan lama dan melupakan karya Kristus yang telah menyelamatkannya. Karena itu, orang percaya harus terus mengingat bahwa ia telah menerima pengampunan. Kesadaran terhadap anugerah pengampunan seharusnya mendorong kita untuk hidup dalam pertobatan dan kesetiaan, bukan kembali kepada kehidupan yang lama.
Ayat 10: Petrus kemudian memberikan sebuah dorongan yang sangat kuat: “Berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh.” Ayat ini tidak mengajarkan bahwa manusia dapat memperoleh keselamatan dengan usaha sendiri, melainkan menunjukkan bahwa panggilan dan pilihan Allah harus dibuktikan melalui kehidupan yang sungguh-sungguh mengikuti Kristus. Ketika orang percaya terus hidup dalam kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih kepada saudara, dan kasih kepada semua orang, maka kehidupan itu menjadi kesaksian bahwa ia sungguh hidup dalam panggilan Allah. Petrus bahkan berkata bahwa orang yang melakukan semuanya itu tidak akan tersandung. Artinya, kehidupan yang terus bertumbuh dalam Kristus akan menolong kita tetap teguh ketika menghadapi berbagai pencobaan dan tantangan iman.
Ayat 11: Ayat terakhir memberikan pengharapan bahwa mereka yang hidup setia dalam panggilan Allah akan menerima hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Kehidupan orang percaya tidak berhenti pada perjuangan di dunia ini. Ada tujuan akhir, yaitu Kerajaan Allah yang kekal. Karena itu, setiap usaha untuk hidup dalam kekudusan, kasih, kesetiaan, dan penguasaan diri tidaklah sia-sia. Semua itu merupakan bagian dari perjalanan iman menuju kehidupan kekal bersama Kristus. Orang yang menyadari bahwa dirinya telah dipanggil dan dipilih Allah akan menjalani hidup bukan hanya untuk kepentingan sekarang, tetapi dengan pandangan tertuju kepada Kerajaan Allah.
4. Refleksi Kehidupan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa bahwa panggilan Allah hanya berkaitan dengan jabatan atau pelayanan tertentu di dalam gereja. Padahal setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi Kristus melalui seluruh kehidupannya. Pertanyaannya bukan hanya apakah kita sudah dipanggil dan dipilih Allah, tetapi apakah kehidupan kita menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh hidup dalam panggilan tersebut. Mungkin kita rajin beribadah, aktif dalam pelayanan, dan mengenal banyak ayat Alkitab, tetapi apakah kita memiliki penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, dan kasih kepada sesama? Di dalam keluarga, apakah kita menjadi pembawa damai? Di tengah jemaat, apakah kita menjadi orang yang membangun atau justru memecah-belah? Di tempat kerja dan masyarakat, apakah kehidupan kita mencerminkan Kristus? 2 Petrus mengingatkan bahwa panggilan Allah harus terlihat dalam karakter dan kehidupan kita. Kita dipanggil bukan hanya untuk hadir di hadapan Tuhan, tetapi untuk hidup menjadi berkat dan menghasilkan buah. Karena itu, marilah kita terus bertumbuh dalam iman dan membiarkan Roh Kudus membentuk kehidupan kita semakin menyerupai Kristus.
5. Penutup
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, 2 Petrus 1:3–11 mengingatkan kita bahwa Allah telah memberikan segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup yang saleh. Allah telah memanggil dan memilih kita, memberikan janji-Nya, serta menyediakan anugerah agar kita dapat bertumbuh dalam iman. Karena itu, janganlah kita menyia-nyiakan panggilan tersebut dengan hidup tanpa pertumbuhan rohani. Iman harus menghasilkan kebajikan, pengetahuan harus menghasilkan penguasaan diri, ketekunan harus menghasilkan kesalehan, dan kesalehan harus menghasilkan kasih. Kehidupan kita hendaknya menjadi bukti nyata bahwa kita adalah orang-orang yang telah dipanggil dan dipilih Allah. Marilah kita terus bertumbuh, setia dalam pelayanan, hidup dalam kekudusan, mengasihi sesama, dan tetap memandang kepada Kristus sampai akhirnya kita menerima anugerah untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya yang kekal. Kita dipanggil dan dipilih Allah bukan untuk hidup bagi diri sendiri, tetapi untuk hidup bagi kemuliaan-Nya dan menjadi berkat bagi sesama. Amin.


Post a Comment