KHOTBAH MINGGU ADVENT IINas: Mazmur 85:8–13Tema: Keselamatan dari Tuhan Telah Dekat
1. Pendahuluan
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, kita kembali memasuki Minggu Advent, yaitu masa ketika gereja mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan. Minggu Advent bukan hanya mengingat kelahiran Yesus Kristus di Betlehem, tetapi juga mengajak kita untuk mempersiapkan hati dalam menantikan kedatangan-Nya kembali. Dalam masa penantian ini, kita diajak untuk hidup dalam iman, pertobatan, pengharapan, dan kasih kepada sesama.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi berbagai pergumulan, seperti kesulitan ekonomi, penyakit, persoalan keluarga, pekerjaan, dan ketidakpastian masa depan. Pergumulan tersebut terkadang membuat kita merasa bahwa pertolongan Tuhan masih jauh. Bahkan, ada kalanya kita mulai kehilangan semangat untuk berdoa dan berharap kepada-Nya. Akan tetapi, firman Tuhan dalam Mazmur 85 mengingatkan bahwa keselamatan dari Tuhan sudah dekat bagi orang-orang yang takut akan Dia. Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya, melainkan terus menyatakan kasih setia dan damai sejahtera-Nya.
Melalui tema “Keselamatan dari Tuhan Telah Dekat”, kita diajak untuk tidak menyerah di tengah pergumulan, melainkan tetap percaya kepada Tuhan. Masa Advent menjadi kesempatan bagi kita untuk membenahi kehidupan, memperbarui iman, dan mempersiapkan diri menyambut Tuhan dengan hati yang bersih. Keselamatan yang datang dari Tuhan hendaknya terlihat melalui kehidupan yang penuh kasih, keadilan, kesetiaan, dan damai sejahtera.
2. Latar Belakang Kitab Mazmur
Kitab Mazmur merupakan kumpulan doa, nyanyian pujian, ratapan, dan ungkapan iman umat Allah dalam berbagai keadaan kehidupan. Melalui kitab ini, umat diajak untuk datang kepada Tuhan dengan jujur, baik ketika mengalami sukacita maupun ketika menghadapi penderitaan dan pergumulan. Kitab Mazmur juga menunjukkan bahwa Tuhan adalah sumber pertolongan, pengampunan, pengharapan, dan keselamatan bagi umat-Nya.
Mazmur 85 merupakan mazmur bani Korah yang berisi doa umat agar Tuhan memulihkan kehidupan mereka. Pada bagian awalnya, pemazmur mengingat kembali kemurahan Tuhan terhadap umat-Nya. Namun, di tengah pengalaman pemulihan tersebut, umat masih memohon agar Tuhan kembali menyatakan kasih setia-Nya dan memberikan damai sejahtera. Hal ini menunjukkan bahwa umat Allah membutuhkan pertolongan Tuhan secara terus-menerus dan tidak dapat mengandalkan kekuatannya sendiri.
Dalam ayat-ayat yang menjadi dasar khotbah ini, pemazmur menyampaikan keyakinan bahwa Tuhan berbicara tentang damai sejahtera kepada umat-Nya. Keselamatan-Nya dekat bagi orang yang takut akan Dia, sementara kasih setia, kesetiaan, keadilan, dan damai sejahtera menjadi gambaran kehidupan yang dipulihkan oleh Tuhan. Oleh karena itu, Mazmur 85 sangat sesuai direnungkan dalam Minggu Advent II, sebab umat percaya diajak untuk menantikan Tuhan dengan penuh pengharapan sekaligus mempersiapkan kehidupan agar sesuai dengan kehendak-Nya.
3. Tafsiran Per Ayat
Ayat 8 — Mendengarkan Firman Tuhan yang Membawa Damai Sejahtera
Pemazmur menyatakan kerinduannya untuk mendengarkan apa yang hendak difirmankan Allah. Ia percaya bahwa Tuhan berbicara tentang damai sejahtera kepada umat-Nya dan orang-orang yang dikasihi-Nya. Damai sejahtera yang dimaksud bukan sekadar tidak adanya pertengkaran, melainkan keadaan hidup yang dipulihkan dalam hubungan yang benar dengan Tuhan dan sesama. Namun, umat juga diperingatkan agar tidak kembali kepada kebodohan, yaitu kehidupan yang mengabaikan kehendak Tuhan. Dalam Minggu Advent II, ayat ini mengajak kita untuk menyediakan waktu mendengarkan firman Tuhan dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kesibukan, kekhawatiran, dan keinginan pribadi membuat kita mengabaikan suara Tuhan. Kita perlu bertobat dari kebiasaan buruk dan membuka hati agar damai sejahtera-Nya sungguh-sungguh memenuhi kehidupan kita.
Ayat 9 — Keselamatan Tuhan Dekat kepada Orang yang Takut Akan Dia
Pemazmur dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa keselamatan dari Tuhan dekat kepada orang-orang yang takut akan Dia. Takut akan Tuhan tidak berarti hidup dalam ketakutan yang membuat kita menjauh dari-Nya, melainkan memiliki rasa hormat, ketaatan, dan kesungguhan untuk hidup sesuai dengan firman-Nya. Keselamatan yang berasal dari Tuhan menjadi dasar pengharapan umat, sebab Tuhan tidak membiarkan mereka berjalan sendirian. Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa keselamatan bukan semata-mata hasil kemampuan manusia, melainkan anugerah Tuhan yang dinyatakan menurut kehendak-Nya. Dalam Advent II, kita mengingat bahwa Allah mendekat kepada manusia melalui kedatangan Yesus Kristus ke dunia. Karena itu, kita tidak perlu kehilangan pengharapan ketika menghadapi kesulitan. Kita dipanggil untuk tetap setia, menghormati Tuhan, dan percaya bahwa keselamatan serta pertolongan-Nya menjadi dasar pengharapan kita.
Ayat 10 — Kasih Setia dan Kesetiaan Akan Bertemu
Ayat ini menggambarkan perjumpaan kasih setia dan kesetiaan, serta keadilan dan damai sejahtera. Gambaran tersebut memperlihatkan kehidupan yang dipulihkan oleh Tuhan, ketika kasih tidak dipisahkan dari kebenaran dan damai tidak dipisahkan dari keadilan. Kasih setia menunjukkan kemurahan Tuhan yang tidak meninggalkan umat-Nya, sedangkan kesetiaan menegaskan pentingnya hidup yang dapat dipercaya di hadapan Tuhan dan sesama. Keadilan dan damai sejahtera juga berjalan bersama, sebab damai yang sejati tidak dapat dibangun dengan membiarkan ketidakadilan. Dalam kehidupan jemaat, firman ini mengingatkan kita supaya tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi sungguh-sungguh mengasihi melalui tindakan. Kita dipanggil untuk mengampuni, menolong mereka yang membutuhkan, berlaku adil, dan membangun hubungan yang rukun. Dengan demikian, kita mempersiapkan diri menyambut Kristus dengan menghadirkan kasih dan damai sejahtera dalam kehidupan bersama.
Ayat 11 — Kesetiaan Tumbuh dari Bumi dan Keadilan Menjenguk dari Langit
Pemazmur menggunakan gambaran bahwa kesetiaan tumbuh dari bumi dan keadilan menjenguk dari langit. Gambaran ini menunjukkan hubungan antara kehidupan manusia dan karya Allah. Kesetiaan yang tumbuh dari bumi menggambarkan bahwa kehidupan umat seharusnya menghasilkan sikap yang benar, jujur, dan setia. Sementara itu, keadilan yang datang dari langit menggambarkan bahwa keadilan sejati berasal dari Tuhan dan dinyatakan dalam kehidupan umat-Nya. Oleh sebab itu, iman tidak boleh berhenti pada perkataan atau kegiatan keagamaan, tetapi harus menghasilkan buah nyata. Dalam masa Advent, kita diajak untuk memeriksa apakah kehidupan kita telah menunjukkan kesetiaan kepada Tuhan. Apakah kita jujur dalam bekerja, setia dalam keluarga, bertanggung jawab dalam pelayanan, dan menghargai sesama? Tuhan menghendaki agar kehidupan orang percaya menjadi kesaksian yang menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh menantikan kedatangan-Nya.
Ayat 12 — Tuhan Memberikan Kebaikan dan Negeri Menghasilkan Buahnya
Pemazmur menyatakan bahwa Tuhan akan memberikan kebaikan dan negeri akan menghasilkan buahnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kebaikan dan pemulihan kehidupan bersumber dari Tuhan. Umat tidak hanya diajak untuk menantikan berkat, tetapi juga menyadari bahwa segala sesuatu yang mereka terima merupakan bagian dari pemeliharaan Allah. Berkat Tuhan seharusnya menumbuhkan rasa syukur dan tanggung jawab untuk menggunakan apa yang dimiliki demi kebaikan bersama. Dalam kehidupan jemaat, kebaikan Tuhan dapat disyukuri melalui kesehatan, pekerjaan, keluarga, persaudaraan, dan kesempatan untuk melayani. Walaupun tidak semua pergumulan langsung berakhir sesuai keinginan kita, kita tetap memiliki alasan untuk berharap kepada Tuhan. Dalam Advent II, ayat ini mengajar kita menantikan Kristus dengan hati yang bersyukur, rajin melakukan kebaikan, dan tidak hanya mementingkan diri sendiri. Kehidupan yang menerima kebaikan Tuhan hendaknya juga menghasilkan buah yang membawa berkat bagi sesama.
Ayat 13 — Keadilan Berjalan di Hadapan Tuhan
Pemazmur menggambarkan keadilan berjalan di hadapan Tuhan dan menyiapkan jalan bagi langkah-Nya. Gambaran ini menegaskan bahwa kehadiran dan pekerjaan Tuhan berkaitan erat dengan kebenaran dan keadilan. Tuhan tidak menghendaki umat-Nya menjalani kehidupan yang dipenuhi kebohongan, penindasan, atau perlakuan yang tidak adil. Sebaliknya, umat dipanggil untuk hidup dalam kebenaran dan menunjukkan karakter yang berkenan kepada-Nya. Dalam terang Minggu Advent II, ayat ini mengingatkan kita untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan melalui pembaruan hidup. Menyambut Kristus bukan hanya berarti mengikuti ibadah atau memasang berbagai hiasan Natal, melainkan juga meninggalkan dosa, memperbaiki hubungan yang rusak, dan memperjuangkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita hidup dengan jujur, adil, dan penuh kasih, kita sedang memberikan kesaksian bahwa kita sungguh-sungguh menantikan Tuhan yang datang membawa keselamatan dan damai sejahtera.
4. Refleksi Kehidupan Jemaat
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, firman Tuhan dalam Mazmur 85 mengajak kita untuk memeriksa bagaimana kita menjalani masa penantian ini. Sering kali kita berharap Tuhan segera mengubah keadaan hidup kita, menyelesaikan masalah keluarga, mencukupkan kebutuhan ekonomi, atau memberikan jalan keluar dari setiap pergumulan. Namun, di tengah penantian itu, Tuhan juga menghendaki adanya perubahan dalam diri kita. Kita tidak cukup hanya meminta pertolongan Tuhan, tetapi harus bersedia mendengarkan firman-Nya, meninggalkan kebiasaan yang salah, serta bertumbuh dalam kasih, kesetiaan, keadilan, dan damai sejahtera.
Sebagai jemaat, kita dipanggil untuk membangun persekutuan yang saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Dalam keluarga, kita dipanggil untuk saling mengasihi dan mengampuni. Di tempat kerja, kita hendaknya berlaku jujur dan bertanggung jawab. Dalam pelayanan gereja, kita perlu setia menggunakan waktu, tenaga, dan kemampuan untuk memuliakan Tuhan. Kita juga harus memperhatikan orang-orang yang sedang mengalami kesusahan, sebab kasih Tuhan perlu dinyatakan melalui tindakan nyata. Ketika kita menyambut Minggu Advent II, marilah kita tidak membiarkan penantian menjadi kegiatan yang hanya bersifat seremonial, tetapi menjadikannya kesempatan untuk memperbarui iman dan hidup dalam pertobatan. Keselamatan dari Tuhan telah dekat, karena itu marilah kita terus berharap kepada-Nya dan menghadirkan damai sejahtera Kristus di mana pun kita berada.
5. Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, melalui Mazmur 85:8–13 kita belajar bahwa keselamatan dari Tuhan dekat kepada orang-orang yang takut akan Dia. Tuhan menghendaki umat-Nya mendengarkan firman-Nya, hidup dalam kasih setia dan kesetiaan, menghasilkan buah kebaikan, serta berjalan dalam keadilan dan damai sejahtera. Dalam Minggu Advent II ini, kita diingatkan bahwa menantikan kedatangan Kristus harus disertai dengan kesiapan hati dan perubahan hidup. Janganlah kita kehilangan pengharapan ketika menghadapi pergumulan, tetapi tetaplah percaya kepada Tuhan yang setia menyertai umat-Nya. Marilah kita mempersiapkan jalan bagi kedatangan-Nya dengan meninggalkan dosa, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta melayani dengan penuh kasih dan ketulusan. Kiranya ketika kita menyambut kelahiran Yesus Kristus dan menantikan kedatangan-Nya kembali, kehidupan kita menjadi kesaksian tentang keselamatan yang Tuhan anugerahkan. Keselamatan dari Tuhan telah dekat; karena itu, marilah kita hidup dalam iman, kasih, keadilan, dan damai sejahtera sambil menantikan kedatangan-Nya. Amin.


Post a Comment