wvsOdYmDaT9SQhoksZrPLG0gYqduIOCNl12L9d9t

Khotbah Minggu 04 Januari 2026

 

 Yohanes 1:10–17 dengan tema “Dari Kepenuhan-Nya Kita Menerima Kasih Karunia”


Pendahuluan

Prolog Injil Yohanes (Yohanes 1:1–18) merupakan salah satu teks kristologis paling mendalam dalam Perjanjian Baru karena menggabungkan refleksi iman, kesaksian historis, dan bahasa teologis yang tinggi. Teks ini tidak sekadar memperkenalkan Yesus sebagai tokoh sejarah, melainkan sebagai Firman kekal yang hadir dalam ruang dan waktu. Ayat 10–17 berada di pusat prolog ini dan menampilkan ketegangan antara penolakan dunia dan anugerah keselamatan Allah. Di dalamnya terlihat dinamika inkarnasi yang bersifat universal sekaligus partikular, ilahi sekaligus historis. Yohanes tidak menulis dengan gaya narasi kronologis, melainkan refleksi iman yang telah dimatangkan oleh pengalaman gereja mula-mula. Karena itu, teks ini harus dibaca sebagai kesaksian teologis yang lahir dari pergumulan iman komunitas Kristen awal. Dengan demikian, Yohanes 1:10–17 menjadi dasar pemahaman tentang kasih karunia sebagai kepenuhan ilahi yang diberikan kepada manusia.

Tema “dari kepenuhan-Nya kita menerima kasih karunia” mengungkapkan inti Injil Yohanes, yakni bahwa keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan pemberian Allah yang bersumber dari Kristus sendiri. Istilah “kepenuhan” menunjuk pada realitas ilahi yang tidak terbatas dan tidak berkurang ketika dibagikan. Dalam dunia religius Yahudi, konsep kepenuhan sering dikaitkan dengan hadirat Allah di Bait Suci atau dalam Taurat. Namun Yohanes menggeser pusat kepenuhan itu dari institusi dan hukum kepada pribadi Kristus. Hal ini menandai perubahan paradigma besar dalam sejarah teologi Yahudi-Kristen. Keselamatan kini dipahami sebagai relasi dengan Sang Firman yang menjadi manusia. Untuk itu, tema ini menuntut pembacaan yang serius dan mendalam secara historis dan teologis. Injil Yohanes ditulis dalam konteks gereja yang telah mengalami pemisahan dengan sinagoge dan menghadapi tantangan dari berbagai ajaran lain. Komunitas pembaca pertama Injil ini hidup dalam ketegangan identitas antara warisan Yahudi dan iman kepada Kristus. Oleh sebab itu, Yohanes menulis dengan tujuan meneguhkan iman dan memberikan kerangka teologis yang kokoh. Ia menggunakan bahasa simbolik, metaforis, dan reflektif untuk menjelaskan makna Yesus bagi dunia. Ayat 10–17 menjadi klimaks dari kesaksian tentang inkarnasi Firman. Di dalamnya, Yohanes menafsirkan peristiwa Yesus dalam terang iman pasca-kebangkitan. Maka dari itu, teks ini merupakan fondasi teologis bagi pemahaman kasih karunia Kristen.


Ayat 10 menyatakan bahwa Firman itu telah ada di dalam dunia, dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Pernyataan ini mengandung ironi teologis yang mendalam, sebab Sang Pencipta justru ditolak oleh ciptaan-Nya. Dalam konteks Helenistik, dunia dipahami sebagai kosmos yang teratur, namun dalam Injil Yohanes dunia juga melambangkan sistem yang menentang Allah. Ketidaktahuan dunia bukan semata ketidaktahuan intelektual, melainkan penolakan eksistensial. Dunia gagal mengenali Allah yang menyatakan diri dalam bentuk yang tidak sesuai dengan ekspektasi manusia. Ini menunjukkan bahwa wahyu ilahi tidak otomatis diterima oleh manusia berdosa. Dengan demikian, ayat ini menegaskan realitas dosa struktural yang menolak terang Allah.

Ayat 11 menegaskan bahwa Firman datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi mereka tidak menerima-Nya. “Milik kepunyaan-Nya” merujuk terutama kepada Israel sebagai umat perjanjian. Secara historis, Israel menantikan Mesias politis yang membebaskan dari penindasan Romawi. Kehadiran Yesus yang rendah hati dan menderita tidak sesuai dengan harapan tersebut. Penolakan ini tidak hanya bersifat historis, tetapi juga teologis karena berkaitan dengan pemahaman yang keliru tentang karya Allah. Yohanes menampilkan tragedi rohani umat pilihan yang gagal mengenali waktu lawatan Allah. Namun penolakan ini tidak menggagalkan rencana keselamatan Allah. Oleh karena itu, ayat ini menunjukkan paradoks antara pemilihan ilahi dan kebebasan manusia.

Paragraf 6 – Penjelasan Teks

Ayat 12 menghadirkan perubahan nada dengan menekankan respons iman terhadap Firman. Kepada semua orang yang menerima-Nya, diberikan kuasa menjadi anak-anak Allah. Status sebagai anak Allah bukanlah hak alami, melainkan anugerah yang diberikan melalui iman. Dalam konteks Yahudi, status umat Allah ditentukan oleh kelahiran dan ketaatan hukum. Yohanes memperluas konsep ini menjadi relasi personal berdasarkan iman kepada Kristus. Iman bukan sekadar persetujuan intelektual, tetapi keterlibatan total dalam relasi dengan Sang Firman. Hal ini menunjukkan bahwa identitas umat Allah kini bersifat kristosentris. Dengan demikian, ayat ini menegaskan dimensi soteriologis dari kasih karunia.

Ayat 13 memperjelas bahwa kelahiran sebagai anak Allah tidak berasal dari darah, daging, atau kehendak manusia. Yohanes menolak semua dasar keselamatan yang bersifat biologis, ritual, atau moral. Keselamatan adalah karya Allah sepenuhnya, bukan hasil usaha manusia. Ini sejalan dengan teologi anugerah yang kemudian dikembangkan dalam gereja mula-mula. Dalam konteks budaya patriarkal, klaim ini bersifat radikal dan subversif. Yohanes menegaskan bahwa Allah berdaulat penuh dalam memberikan hidup baru. Maka dari itu, ayat ini memperkuat doktrin kelahiran baru sebagai karya kasih karunia.

Ayat 14 menyatakan bahwa Firman itu telah menjadi daging dan diam di antara manusia. Pernyataan ini merupakan inti doktrin inkarnasi dalam iman Kristen. Kata “diam” mengingatkan pada kemah Allah di padang gurun, yang menandakan kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Inkarnasi bukan penyamaran ilahi, melainkan penyataan diri Allah yang sejati. Yohanes menekankan bahwa kemuliaan Allah kini terlihat dalam Yesus yang historis. Hal ini menentang pandangan gnostik yang merendahkan tubuh dan sejarah. Dengan demikian, ayat ini menegaskan realitas historis dan teologis inkarnasi.

Ayat 14 juga menyatakan bahwa Yesus penuh kasih karunia dan kebenaran. Ungkapan ini menggemakan sifat Allah dalam Keluaran 34:6. Yohanes ingin menunjukkan kesinambungan antara Allah Perjanjian Lama dan pewahyuan dalam Kristus. Kasih karunia dan kebenaran bukan dua hal yang terpisah, melainkan satu kesatuan dalam diri Yesus. Dalam konteks hukum Taurat, kebenaran sering dipahami sebagai ketaatan legal. Yohanes memperlihatkan kebenaran sebagai relasi yang hidup dalam kasih karunia. Ini menandai pergeseran dari hukum ke relasi personal. Oleh karena itu, ayat ini menunjukkan transformasi pemahaman tentang kebenaran ilahi.

Ayat 15 menampilkan kesaksian Yohanes Pembaptis yang menegaskan keunggulan Kristus. Meskipun Yesus datang setelah Yohanes, Ia ada lebih dahulu. Pernyataan ini menegaskan pra-eksistensi Kristus. Yohanes Pembaptis berfungsi sebagai saksi historis dan teologis. Dalam budaya Yahudi, kesaksian sangat penting untuk legitimasi kebenaran. Yohanes Injil menggunakan figur ini untuk memperkuat klaim kristologisnya. Kesaksian ini menunjukkan bahwa iman Kristen berakar pada sejarah nyata. Dengan demikian, ayat ini menegaskan kontinuitas antara kesaksian manusia dan wahyu ilahi.


Ayat 16 menyatakan bahwa dari kepenuhan-Nya kita menerima kasih karunia demi kasih karunia. Frasa ini menunjukkan kelimpahan anugerah yang terus-menerus. Kepenuhan Kristus tidak pernah habis meskipun dibagikan kepada banyak orang. Dalam tradisi Yahudi, kepenuhan sering dikaitkan dengan Taurat. Yohanes menegaskan bahwa kepenuhan sejati kini ada dalam Kristus. Kasih karunia bukan peristiwa sesaat, melainkan realitas berkelanjutan. Ini menunjukkan sifat dinamis dari relasi keselamatan. Dengan demikian, ayat ini menegaskan sumber utama kehidupan rohani umat percaya.

Ayat 17 membandingkan Taurat yang diberikan melalui Musa dengan kasih karunia dan kebenaran melalui Yesus Kristus. Yohanes tidak meniadakan Taurat, melainkan menempatkannya dalam terang Kristus. Taurat dipahami sebagai sarana persiapan menuju kepenuhan wahyu. Yesus bukan penentang Taurat, melainkan penggenapannya. Dalam konteks politik Romawi, hukum sering menjadi alat penindasan. Yohanes menampilkan kasih karunia sebagai alternatif ilahi terhadap sistem hukum yang kaku. Ini menegaskan supremasi kasih karunia atas legalisme. Oleh sebab itu, ayat ini memperlihatkan puncak sejarah keselamatan.

 Refleksi Teologis

    Bagi jemaat masa kini, Yohanes 1:10–17 menantang pemahaman tentang iman yang sering bersifat formal dan institusional. Dunia modern pun sering gagal mengenali kehadiran Allah dalam kesederhanaan dan penderitaan. Kasih karunia masih sering digantikan oleh prestasi dan moralitas. Teks ini mengingatkan bahwa keselamatan bersumber dari kepenuhan Kristus, bukan dari keberhasilan manusia. Gereja dipanggil untuk menjadi saksi kasih karunia, bukan penghakiman. Inkarnasi menuntut gereja hadir di tengah dunia dengan solidaritas. Maka dari itu, teks ini mengundang jemaat untuk hidup dalam relasi yang penuh kasih karunia. Kasih karunia demi kasih karunia mengajak orang percaya untuk hidup dalam rasa syukur dan ketergantungan kepada Allah. Dalam konteks masyarakat yang kompetitif, pesan ini sangat relevan. Identitas sebagai anak Allah membebaskan manusia dari kecemasan eksistensial. Gereja dipanggil untuk menghadirkan kepenuhan Kristus dalam pelayanan yang holistik. Teologi Yohanes menegaskan bahwa iman sejati selalu berbuah dalam kehidupan nyata. Dengan menerima kasih karunia, umat percaya dipanggil untuk membagikannya. Dengan demikian, Yohanes 1:10–17 menjadi undangan untuk hidup dari kepenuhan kasih karunia Allah.

OlderNewest

Post a Comment

silakan Komentar dengan baik
Total Pageviews
Times/ Waktu
Waktu di Kota Medan: