Pendahuluan
Dunia sering mendefinisikan bahagia sebagai keadaan tanpa kekurangan, tanpa penderitaan, penuh keberhasilan dan pengakuan. Namun Yesus justru berbicara tentang kebahagiaan yang lahir dari relasi dengan Allah, bahkan di tengah keterbatasan, penderitaan, dan pengorbanan. Inilah kebahagiaan yang melampaui keadaan lahiriah, kebahagiaan yang berakar di dalam Tuhan.
Isi Khotbah
Yesus memulai dengan menyebut orang-orang yang “berbahagia”, tetapi kelompok yang disebut-Nya justru jauh dari gambaran manusia sukses menurut ukuran dunia. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,” bukan mereka yang merasa cukup dan kuat, melainkan mereka yang menyadari ketergantungannya sepenuhnya kepada Tuhan. Kemiskinan rohani bukan kelemahan, melainkan sikap hati yang terbuka dan rendah, yang tahu bahwa hidupnya tidak mungkin berdiri tanpa anugerah Allah. Di Minggu Septuagesima, sikap ini menjadi dasar perjalanan iman: menyadari bahwa kita membutuhkan Tuhan dalam setiap langkah.
Yesus juga menyebut berbahagia mereka yang berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran. Duka di sini bukan sekadar kesedihan emosional, tetapi kepekaan hati terhadap dosa, ketidakadilan, dan kerusakan relasi dengan Allah. Orang yang lapar dan haus akan kebenaran adalah mereka yang rindu hidup sesuai kehendak Tuhan, bukan sekadar mengejar kenyamanan pribadi. Kebahagiaan menurut Yesus lahir dari kerinduan akan kebenaran, bukan dari pemuasan diri.
Lebih jauh, Yesus menyebut berbahagia orang yang murah hati, suci hatinya, dan membawa damai. Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan Kristen selalu bersifat relasional. Orang yang hidup dalam kasih, pengampunan, dan perdamaian justru mengalami sukacita sejati, karena hidupnya mencerminkan karakter Allah sendiri. Dalam terang Minggu Septuagesima, hal ini menjadi panggilan untuk mulai melatih diri dalam kasih dan pengorbanan, sebagai persiapan menuju perayaan Paskah.
Puncaknya, Yesus menyatakan bahwa mereka yang dianiaya oleh karena kebenaran pun disebut berbahagia. Pernyataan ini sangat kontras dengan logika dunia. Namun Yesus menegaskan bahwa penderitaan karena kesetiaan kepada Tuhan bukanlah tanda kegagalan, melainkan tanda bahwa seseorang hidup di jalan Kerajaan Allah. Kebahagiaan yang Yesus tawarkan bukan kebahagiaan yang menghindari salib, melainkan kebahagiaan yang menemukan makna di dalam salib itu sendiri
Aplikasi dalam Kehidupan
Hidup berbahagia di dalam Tuhan berarti berani hidup rendah hati, peka terhadap kehendak Allah, setia dalam kebenaran, dan tetap berharap di tengah kesulitan. Kebahagiaan sejati tidak selalu berarti hidup tanpa air mata, tetapi hidup dengan pengharapan bahwa Tuhan menyertai, menghibur, dan menjanjikan Kerajaan-Nya bagi mereka yang setia.
Penutup


Post a Comment