KHOTBAH MINGGU XVI SETELAH TRINITATIS
1. Pendahuluan
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Dalam kehidupan ini, tidak semua keadaan berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Ada saat ketika kita mengalami sukacita, keberhasilan, kesehatan, kecukupan, dan keadaan yang menyenangkan. Tetapi ada juga saat ketika kita menghadapi kekurangan, kegagalan, sakit penyakit, kehilangan, konflik, kekecewaan, tekanan ekonomi, bahkan persoalan dalam keluarga dan pelayanan.
Ketika menghadapi keadaan yang berat, manusia sering bertanya: “Apakah saya sanggup melewati semua ini?” Bahkan kadang-kadang kita merasa bahwa beban yang kita hadapi terlalu berat. Kita mulai kehilangan semangat, kehilangan pengharapan, dan merasa bahwa Tuhan seakan-akan jauh.
Namun Paulus memberikan kesaksian yang sangat kuat dalam Filipi 4:13: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Perkataan ini bukanlah perkataan seseorang yang hidup tanpa masalah. Justru Paulus mengucapkannya setelah mengalami berbagai macam keadaan. Ia pernah mengalami kelaparan dan kelimpahan, kekurangan dan kecukupan. Jadi, ketika Paulus mengatakan bahwa ia dapat menanggung segala perkara, ia tidak sedang mengatakan bahwa orang percaya akan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Yang dimaksud Paulus adalah bahwa dalam segala keadaan, baik senang maupun susah, orang percaya dapat tetap bertahan, tetap setia, tetap bersyukur, dan tetap hidup dalam iman karena kekuatan itu berasal dari Kristus.
Karena itu, tema khotbah kita pada hari ini adalah:
“Segala Perkara Dapat Kutanggung di Dalam Tuhan.”
Tema ini mengajarkan bahwa sumber kekuatan hidup kita bukan semata-mata kemampuan diri sendiri, harta, jabatan, keluarga, atau keadaan yang baik. Sumber kekuatan kita adalah Tuhan Yesus Kristus.
2. Latar Belakang Kitab Filipi
Surat Filipi adalah salah satu surat Paulus yang dikenal sebagai surat sukacita, walaupun surat ini ditulis ketika Paulus berada dalam penjara. Hal ini sangat menarik. Bagaimana mungkin seseorang yang sedang berada dalam penderitaan justru begitu banyak berbicara tentang sukacita, ucapan syukur, dan keteguhan iman?
Kota Filipi merupakan sebuah kota penting di wilayah Makedonia. Jemaat Filipi merupakan salah satu jemaat yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Paulus. Jemaat ini didirikan oleh Paulus dalam perjalanan pemberitaan Injilnya sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 16.
Jemaat Filipi menunjukkan perhatian yang besar terhadap Paulus dan pelayanannya. Mereka beberapa kali membantu kebutuhan pelayanan Paulus. Dalam surat ini Paulus mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang mereka berikan.
Namun, yang menarik adalah Paulus tidak mau kesannya bahwa ia bersyukur hanya karena menerima bantuan secara materi. Paulus menegaskan bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
Dalam Filipi 4:11–12 Paulus berkata bahwa ia telah belajar menghadapi keadaan kekurangan maupun kelimpahan. Ia tahu apa artinya hidup dalam kekurangan, dan ia tahu pula bagaimana hidup dalam kelimpahan.
Jadi, inti persoalan dalam perikop ini bukan sekadar materi atau bantuan, melainkan bagaimana seorang percaya menjalani segala keadaan dengan kekuatan dari Kristus.
Paulus telah belajar satu hal penting: keadaan tidak boleh menentukan iman kita.
Ketika kita berkecukupan, kita tetap percaya kepada Tuhan.
Ketika kita berkekurangan, kita tetap percaya kepada Tuhan.
Ketika berhasil, kita tetap rendah hati.
Ketika gagal, kita tidak kehilangan pengharapan.
Inilah yang menjadi kekuatan rohani dalam Filipi 4:10–19.
3. Tafsiran Filipi 4:10–19
Ayat 10
“Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku.”
Paulus mengawali bagian ini dengan mengatakan bahwa ia sangat bersukacita dalam Tuhan.
Perhatikan bahwa sukacita Paulus bukan pertama-tama karena menerima bantuan material. Ia berkata bahwa ia bersukacita “dalam Tuhan.”
Artinya, dasar sukacita Paulus adalah Tuhan, bukan pemberian manusia.
Paulus bersyukur karena jemaat Filipi kembali menunjukkan perhatian kepada dirinya. Perhatian itu menunjukkan bahwa jemaat masih mengingat Paulus dan masih memiliki kasih terhadapnya.
Namun Paulus mengatakan bahwa sebenarnya jemaat sudah memiliki perhatian sebelumnya, hanya saja mereka belum memiliki kesempatan untuk menunjukkannya.
Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa kasih tidak selalu dinyatakan melalui sesuatu yang besar. Perhatian sederhana, kepedulian, doa, kunjungan, dukungan, dan kehadiran juga merupakan bentuk kasih yang sangat berharga.
Dalam kehidupan jemaat, perhatian kepada sesama jangan sampai hilang.
Kadang-kadang seseorang tidak membutuhkan uang yang banyak. Ia hanya membutuhkan seseorang yang datang dan berkata:
“Saya tidak melupakanmu. Saya mendoakanmu. Tuhan menyertai kamu.”
Ayat 11
“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”
Inilah salah satu ayat penting dalam perikop ini.
Paulus mengatakan bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
Perhatikan kata “belajar.”
Artinya, kemampuan untuk mencukupkan diri bukanlah sesuatu yang otomatis dimiliki manusia. Itu adalah proses pembentukan iman.
Paulus juga tidak mengatakan bahwa semua keadaan itu mudah. Ia mengatakan bahwa dirinya telah belajar menghadapinya.
Ada proses panjang yang membuat Paulus mampu bertahan.
Dalam kehidupan kita juga demikian. Kesabaran dipelajari. Ketekunan dipelajari. Kesetiaan dipelajari. Bahkan kemampuan bersyukur juga dipelajari.
Kita sering ingin hidup kita selalu mudah, tetapi Tuhan sering memakai kesulitan untuk membentuk kedewasaan iman kita.
Ketika kita mengalami kekurangan, kita belajar percaya.
Ketika kita mengalami keterbatasan, kita belajar berserah.
Ketika kita mengalami kehilangan, kita belajar bahwa Tuhan tetap menjadi sumber kehidupan.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang Kristen bukan hanya berapa banyak yang ia miliki, tetapi juga seberapa kuat ia tetap percaya ketika apa yang dimilikinya berkurang.
Ayat 12
“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu rahasia kepadaku; baik dalam hal kenyang maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.”
Paulus menunjukkan dua keadaan kehidupan:
kekurangan dan kelimpahan.
kenyang dan lapar.
cukup dan tidak cukup.
Paulus mengalami semuanya.
Ini penting karena sering kali kita berpikir bahwa iman hanya dibutuhkan ketika berada dalam kesulitan. Padahal sesungguhnya kelimpahan juga membutuhkan iman.
Ketika kita kekurangan, kita membutuhkan Tuhan.
Tetapi ketika kita berkelimpahan, kita juga membutuhkan Tuhan supaya kita tidak melupakan-Nya.
Kekurangan dapat membuat orang putus asa.
Tetapi kelimpahan juga dapat membuat orang sombong dan merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.
Karena itu Paulus berkata bahwa ia tahu bagaimana menghadapi kedua keadaan tersebut.
Ada orang yang kuat ketika susah, tetapi jatuh ketika sudah berhasil.
Ada juga orang yang mudah bersyukur ketika mendapat berkat, tetapi ketika mengalami kesulitan ia mulai meninggalkan Tuhan.
Paulus menunjukkan kedewasaan iman: dalam keadaan apa pun, Tuhan tetap menjadi pusat hidupnya.
Ayat 13
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Inilah ayat yang paling menonjol dan menjadi pusat tema khotbah kita.
Sering kali ayat ini dipahami seolah-olah berarti:
“Saya bisa mendapatkan apa saja yang saya mau karena Tuhan memberi saya kekuatan.”
Tetapi konteks Filipi 4 menunjukkan makna yang lebih dalam.
“Segala perkara” di sini berhubungan dengan keadaan yang disebutkan Paulus sebelumnya: kelimpahan, kekurangan, kenyang, lapar, berhasil maupun menghadapi kesulitan.
Jadi Paulus mengatakan:
“Dalam segala keadaan hidup, aku dapat bertahan karena Kristus memberi kekuatan kepadaku.”
Jadi kekuatan itu bukan terutama kemampuan untuk mendapatkan semua yang kita inginkan.
Kekuatan itu adalah kemampuan untuk:
tetap percaya ketika menghadapi kesulitan,
tetap bersyukur ketika mengalami kekurangan,
tetap rendah hati ketika menerima kelimpahan,
tetap setia ketika menghadapi penderitaan,
tetap melayani ketika keadaan tidak mudah,
tetap berharap ketika manusia sudah kehilangan harapan.
Kekuatan Paulus berasal dari Kristus.
Perhatikan perkataan Paulus:
“di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Jadi pusat ayat ini bukan “aku”, tetapi “Dia.”
Bukan:
“Aku kuat karena aku hebat.”
Tetapi:
“Aku kuat karena Kristus yang memberi kekuatan.”
Inilah iman Kristen.
Kita bukan orang yang mengatakan:
“Saya mampu karena saya kuat.”
Tetapi kita berkata:
“Saya mampu bertahan karena Tuhan yang menguatkan saya.”
Ayat 14
“Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.”
Paulus menghargai jemaat Filipi karena mereka tidak hanya memikirkan dirinya ketika keadaan mudah.
Mereka mengambil bagian dalam kesusahan Paulus.
Ini menggambarkan kehidupan persekutuan orang percaya.
Gereja bukan tempat di mana seseorang hanya datang ketika membutuhkan sesuatu.
Gereja adalah komunitas yang dipanggil untuk saling menopang.
Ketika ada yang sakit, kita hadir.
Ketika ada yang berduka, kita menghibur.
Ketika ada yang mengalami kesulitan, kita membantu.
Ketika ada yang jatuh, kita menolong untuk bangkit.
Ketika ada yang lemah, kita menguatkan.
Inilah bentuk kasih Kristiani.
Ayat 15
“Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi, bahwa pada waktu aku mulai bekerja di Makedonia, tidak ada satu jemaat pun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain daripada kamu.”
Jemaat Filipi memiliki hubungan khusus dengan Paulus.
Mereka bukan hanya pendengar firman, tetapi juga partner dalam pelayanan Injil.
Mereka memahami bahwa pekerjaan Tuhan adalah tanggung jawab bersama.
Dalam pelayanan gereja, tidak semua orang harus berkhotbah.
Tidak semua orang harus menjadi sintua.
Tidak semua orang harus menjadi pemimpin.
Tetapi setiap orang dapat mengambil bagian.
Ada yang melayani dengan tenaga.
Ada yang melayani dengan waktu.
Ada yang melayani dengan kemampuan.
Ada yang melayani dengan doa.
Ada yang melayani melalui persembahan.
Ada yang melayani dengan kepedulian.
Yang penting adalah setiap orang mau mengambil bagian.
Ayat 16
“Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.”
Paulus mengingat bantuan jemaat Filipi.
Hal ini menunjukkan bahwa kasih yang sejati tidak berhenti pada kata-kata.
Kasih diwujudkan dalam tindakan.
Jemaat Filipi tidak hanya berkata:
“Kami mendukung Paulus.”
Mereka benar-benar mengirimkan bantuan.
Hal ini menjadi tantangan bagi gereja masa kini.
Jangan sampai kasih kita hanya berupa perkataan:
“Kami mendoakanmu.”
Doa memang sangat penting.
Namun ketika Tuhan memberikan kesempatan untuk menolong secara nyata, kita juga dipanggil untuk bertindak.
Ayat 17
“Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.”
Paulus tidak berfokus pada nilai materi yang ia terima.
Ia melihat lebih jauh.
Paulus melihat bahwa tindakan memberi menghasilkan buah rohani bagi orang yang memberi.
Dengan kata lain, pemberian itu bukan hanya menolong Paulus, tetapi juga menjadi bukti pertumbuhan iman jemaat Filipi.
Ini penting.
Kita memberi bukan supaya Tuhan berutang kepada kita.
Kita juga tidak memberi supaya dipuji manusia.
Kita memberi karena kita telah terlebih dahulu menerima kasih karunia Tuhan.
Jadi persembahan, pelayanan, dan bantuan kepada sesama merupakan buah dari iman.
Ayat 18
“Kini aku telah menerima semuanya, malah lebih daripada itu. Aku berkelebihan, setelah aku menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.”
Paulus menyebut pemberian jemaat sebagai:
“suatu persembahan yang harum.”
Istilah ini memiliki nuansa korban yang dipersembahkan kepada Tuhan.
Artinya, ketika jemaat menolong pelayanan Paulus, sesungguhnya mereka sedang melakukan sebuah pelayanan kepada Tuhan.
Apa yang kita lakukan bagi sesama karena kasih kepada Tuhan tidak pernah sia-sia.
Ketika kita mengunjungi orang sakit, Tuhan melihat.
Ketika kita membantu keluarga yang mengalami kesusahan, Tuhan melihat.
Ketika kita mengajar Sekolah Minggu, Tuhan melihat.
Ketika kita membersihkan gereja, Tuhan melihat.
Ketika kita memberikan waktu dalam pelayanan, Tuhan melihat.
Manusia mungkin tidak memperhatikan.
Tetapi Tuhan mengetahui semuanya.
Ayat 19
“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.”
Ayat ini merupakan penutup yang sangat indah.
Paulus tidak berkata:
“Allah akan memenuhi semua keinginanmu.”
Tetapi:
“Allah akan memenuhi segala keperluanmu.”
Ada perbedaan antara keinginan dan keperluan.
Tidak semua yang kita inginkan adalah yang kita perlukan.
Kadang-kadang kita meminta sesuatu kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak memberikannya. Bukan karena Tuhan tidak mengasihi kita, tetapi karena Tuhan tahu apa yang benar-benar kita perlukan.
Jaminan Paulus adalah bahwa Allah sanggup memenuhi kebutuhan umat-Nya sesuai dengan kekayaan dan kemuliaan-Nya.
Ini adalah dasar pengharapan kita.
Bukan kekayaan kita yang menjadi jaminan.
Bukan pekerjaan kita.
Bukan manusia.
Bukan keadaan.
Tetapi Allah sendiri.
4. Relevansi bagi Kehidupan Jemaat
A. Belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan
Jemaat Tuhan dipanggil untuk belajar mencukupkan diri.
Dalam dunia yang sering membuat manusia merasa bahwa dirinya tidak pernah cukup, firman Tuhan mengajarkan:
“Belajarlah bersyukur.”
Jangan mengukur kebahagiaan dari apa yang dimiliki orang lain.
Jangan membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.
Tuhan memberikan jalan dan berkat yang berbeda bagi setiap orang.
Yang terutama bukan berapa banyak yang kita miliki, tetapi apakah kita mampu bersyukur kepada Tuhan atas apa yang sudah diberikan.
B. Jangan meninggalkan Tuhan ketika mengalami kesulitan
Ada orang yang ketika hidupnya baik rajin berdoa.
Tetapi ketika masalah datang, ia mulai menjauh.
Filipi 4 mengajarkan bahwa justru ketika keadaan sulit, kita harus semakin dekat kepada Tuhan.
Masalah tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan Tuhan.
Sebaliknya, masalah dapat menjadi kesempatan untuk mengalami pertolongan Tuhan secara lebih nyata.
C. Jangan lupa kepada Tuhan ketika hidup dalam kelimpahan
Kita juga perlu berhati-hati terhadap kelimpahan.
Ketika usaha berhasil, jangan melupakan Tuhan.
Ketika ekonomi membaik, jangan melupakan doa.
Ketika memperoleh jabatan, jangan menjadi sombong.
Ketika hidup semakin nyaman, jangan kehilangan kepedulian terhadap sesama.
Kelimpahan yang sejati bukan hanya mempunyai banyak, tetapi mampu memakai apa yang kita miliki untuk kemuliaan Tuhan.
D. Jemaat dipanggil untuk saling menopang
Jemaat Filipi menjadi contoh bahwa gereja adalah tempat di mana orang saling memperhatikan.
Jangan sampai ada orang dalam persekutuan kita yang mengalami kesusahan tetapi merasa sendirian.
Mari membangun jemaat yang:
peduli kepada yang sakit,
menolong yang kekurangan,
menghibur yang berduka,
menguatkan yang lemah,
mendampingi yang menghadapi persoalan,
dan mendoakan satu sama lain.
Inilah gereja yang hidup.
E. Kekuatan orang percaya bersumber dari Kristus
Inilah inti dari Filipi 4:13.
Paulus tidak berkata:
“Aku kuat karena aku tidak punya masalah.”
Ia juga tidak berkata:
“Aku kuat karena hidupku selalu berhasil.”
Tetapi:
“Aku dapat menanggung segala perkara karena Kristus memberi kekuatan.”
Karena itu, ketika jemaat menghadapi masalah keluarga, katakan:
“Tuhan memberi kekuatan.”
Ketika menghadapi masalah ekonomi:
“Tuhan memberi kekuatan.”
Ketika menghadapi pelayanan yang berat:
“Tuhan memberi kekuatan.”
Ketika menghadapi penyakit dan penderitaan:
“Tuhan memberi kekuatan.”
Ketika menghadapi kegagalan:
“Tuhan memberi kekuatan.”
Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Tetapi kita tahu siapa yang memegang hari esok.
Kristus.
Inti Pesan Khotbah
Dari Filipi 4:10–19, ada tiga hal penting yang perlu kita pegang:
1. Belajarlah mencukupkan diri dalam segala keadaan
Jangan biarkan keadaan menentukan sukacita dan iman kita.
2. Jadikan Kristus sumber kekuatan hidup
Kita bukan kuat karena kemampuan kita sendiri, tetapi karena Tuhan yang menguatkan.
3. Jadilah jemaat yang saling menopang
Apa yang kita miliki adalah pemberian Tuhan dan dapat dipakai untuk memberkati orang lain.
Penutup
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Hidup ini tidak selalu mudah. Akan ada masa ketika kita berada dalam kelimpahan, tetapi ada juga masa ketika kita mengalami kekurangan. Akan ada hari ketika kita tersenyum, tetapi ada pula hari ketika kita menangis.
Namun Filipi 4:13 mengingatkan kita:
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Perhatikan sekali lagi: bukan karena aku kuat, tetapi karena Dia yang memberi kekuatan.
Karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan menyerah.
Ketika keadaan tidak sesuai harapan, jangan kehilangan iman.
Ketika mengalami kekurangan, jangan kehilangan syukur.
Ketika mengalami kelimpahan, jangan melupakan Tuhan.
Ketika orang lain membutuhkan pertolongan, jangan menutup hati.
Sebab Kristus telah menjadi sumber kekuatan kita.
Kiranya kita menjadi jemaat yang mampu berkata:
“Dalam kelimpahan saya bersyukur.”
“Dalam kekurangan saya tetap percaya.”
“Dalam penderitaan saya tetap bertahan.”
“Dalam pelayanan saya tetap setia.”
“Dalam segala perkara, saya tetap berharap kepada Kristus.”
Sebab:
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Amin.


Post a Comment