wvsOdYmDaT9SQhoksZrPLG0gYqduIOCNl12L9d9t

Khotbah Minggu 13 September 2026

 

KHOTBAH MINGGU XIV SETELAH TRINITATIS

Nas: Lukas 10:25–37
Tema: “Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia”

1. PENDAHULUAN

Shalom, Bapak/Ibu, saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Pada Minggu XIV setelah Trinitatis ini, kita diajak merenungkan satu hal yang sangat mendasar dalam kehidupan iman, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia.

Sering kali kita merasa bahwa hidup sebagai orang percaya berarti rajin beribadah, berdoa, membaca Alkitab, mengikuti kegiatan gereja, dan melakukan berbagai pelayanan. Semua itu memang penting. Namun Yesus mengingatkan bahwa kehidupan iman tidak berhenti pada hubungan kita dengan Allah saja. Kasih kepada Allah harus nyata dalam cara kita memperlakukan sesama manusia.

Dalam Lukas 10:25–37, Yesus berhadapan dengan seorang ahli Taurat yang bertanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Pertanyaan itu kemudian membawa Yesus kepada perintah utama tentang mengasihi Allah dan sesama. Ketika ahli Taurat itu bertanya lebih lanjut, “Siapakah sesamaku manusia?”, Yesus menjawab bukan dengan definisi, melainkan dengan sebuah perumpamaan yang sangat terkenal, yaitu perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati.

Menariknya, dalam perumpamaan itu, yang menjadi contoh bukan imam dan bukan orang Lewi, melainkan seorang Samaria—kelompok yang pada masa itu sering dipandang rendah oleh orang Yahudi.

Melalui perumpamaan ini, Yesus hendak mengubah cara kita memandang sesama. Sesama bukan hanya orang yang kita kenal, keluarga kita, sahabat kita, orang yang satu suku, satu kelompok, satu gereja, atau orang yang mempunyai hubungan baik dengan kita. Sesama adalah setiap orang yang membutuhkan kasih dan pertolongan kita.

Karena itu, tema kita hari ini, “Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia,” mengingatkan bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama.

2. LATAR BELAKANG KITAB DAN NAS

A. Latar belakang Injil Lukas

Injil Lukas merupakan salah satu dari empat Injil dalam Perjanjian Baru. Injil ini secara tradisional dikaitkan dengan Lukas, seorang yang dikenal sebagai tabib dan rekan pelayanan Paulus.

Lukas menulis Injilnya dengan tujuan memberikan suatu berita yang teratur mengenai kehidupan, pelayanan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Dari Injil Lukas kita melihat perhatian Yesus yang sangat besar kepada orang-orang yang sering dianggap kecil, lemah, tersisih, atau tidak diperhitungkan oleh masyarakat.

Lukas banyak menampilkan kasih dan belas kasihan Yesus kepada:

  • orang miskin,

  • orang berdosa,

  • perempuan,

  • pemungut cukai,

  • orang sakit,

  • orang asing,

  • dan mereka yang tersingkir dari masyarakat.

Karena itu, perumpamaan orang Samaria yang murah hati sangat sesuai dengan penekanan Injil Lukas mengenai kasih, belas kasihan, dan penerimaan terhadap sesama.

B. Konteks Lukas 10:25–37

Bagian ini berada dalam perjalanan Yesus menuju Yerusalem. Dalam perjalanan tersebut, Yesus mengajar murid-murid-Nya dan banyak orang mengenai kehidupan sebagai pengikut-Nya.

Percakapan dimulai dengan seorang ahli Taurat yang datang untuk mencobai Yesus. Ahli Taurat adalah orang yang memahami dan mempelajari hukum Taurat. Ia tentu mengetahui berbagai perintah Allah.

Tetapi masalahnya bukan pada kurangnya pengetahuan. Masalahnya adalah apakah pengetahuan tersebut sungguh-sungguh diwujudkan dalam kehidupan.

Ia bertanya:

“Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

Yesus kemudian mengarahkan pertanyaan itu kembali kepada hukum Taurat. Ahli Taurat menjawab dengan benar:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Jawaban tersebut benar. Namun kemudian muncul pertanyaan yang menunjukkan bahwa ia masih ingin membatasi kasih:

“Dan siapakah sesamaku manusia?”

Di sinilah Yesus menyampaikan perumpamaan orang Samaria yang murah hati.

Perumpamaan ini tidak sekadar berbicara mengenai membantu orang yang mengalami kesulitan. Perumpamaan ini berbicara tentang siapa kita ketika melihat penderitaan orang lain.

3. TAFSIRAN LUKAS 10:25–37

Ayat 25

“Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

Ayat ini memperkenalkan tokoh seorang ahli Taurat.

Ia datang kepada Yesus dan mengajukan pertanyaan tentang hidup yang kekal. Pertanyaan ini sebenarnya sangat penting. Semua manusia pada akhirnya berhadapan dengan pertanyaan mengenai kehidupan yang benar di hadapan Allah.

Namun Lukas mengatakan bahwa ia datang “untuk mencobai Yesus.”

Artinya, pertanyaan tersebut bukan semata-mata lahir dari kerinduan yang tulus untuk belajar. Ia ingin menguji Yesus.

Di sini kita belajar bahwa pengetahuan agama tidak selalu berarti hati yang benar di hadapan Tuhan.

Seseorang dapat mengetahui banyak ayat Alkitab, memahami teologi, aktif dalam pelayanan, bahkan mengerti aturan gereja, tetapi belum tentu memiliki kasih yang nyata.

Karena itu, pertanyaan yang penting bukan hanya:

“Seberapa banyak yang saya tahu tentang Tuhan?”

Tetapi:

“Seberapa nyata kasih Tuhan terlihat dalam hidup saya?”

Ayat 26

“Jawab Yesus kepadanya: Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”

Yesus tidak langsung memberikan jawaban. Ia justru mengajak ahli Taurat tersebut melihat kembali Taurat.

Pertanyaan Yesus menunjukkan bahwa kehidupan beriman tidak boleh dipisahkan dari Firman Tuhan.

Yesus ingin menunjukkan bahwa jawaban sebenarnya sudah ada dalam hukum Allah.

Iman Kristen bukan iman yang berdiri tanpa dasar. Kehidupan kasih memiliki dasar dalam kehendak Allah.

Namun Yesus juga ingin menunjukkan bahwa mengetahui Firman saja tidak cukup.

Firman harus dibaca, dipahami, dipercaya, dan terutama dilakukan.

Ayat 27

“Jawab orang itu: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Ini adalah pusat dari percakapan tersebut.

Ahli Taurat memberikan jawaban yang benar. Ia menyebut dua kasih yang tidak dapat dipisahkan.

Pertama, kasih kepada Allah.

Mengasihi Allah dengan:

  • segenap hati,

  • segenap jiwa,

  • segenap kekuatan,

  • segenap akal budi.

Artinya, kasih kepada Allah mencakup seluruh keberadaan manusia.

Bukan hanya saat kita berada di gereja.

Bukan hanya ketika beribadah.

Bukan hanya ketika kita membutuhkan pertolongan Tuhan.

Tetapi seluruh kehidupan kita harus diarahkan kepada Allah.

Kedua, kasih kepada sesama.

“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Ukuran kasih adalah bagaimana kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Kita ingin dihargai, maka kita menghargai orang lain.

Kita ingin ditolong ketika susah, maka kita menolong orang lain.

Kita tidak ingin dipermalukan, maka kita tidak mempermalukan orang lain.

Kita ingin dimengerti, maka kita belajar memahami orang lain.

Dengan demikian, kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama merupakan satu kesatuan.

Tidak mungkin kita berkata bahwa kita mengasihi Allah, tetapi pada saat yang sama kita terus-menerus membenci, merendahkan, menyakiti, dan mengabaikan sesama.

Ayat 28

“Kata Yesus kepadanya: Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

Yesus menyatakan bahwa jawabannya benar.

Tetapi Yesus tidak berhenti pada “mengetahui”.

Ia berkata:

“Perbuatlah demikian.”

Inilah penekanannya.

Kasih bukan hanya teori.

Kasih harus dilakukan.

Kasih yang hanya ada dalam kata-kata belum cukup.

Kita dapat berkata:

“Kasihan sekali orang itu.”

Tetapi jika tidak ada tindakan, maka kasih tersebut belum menjadi nyata.

Kita dapat mengatakan:

“Saya mengasihi saudara.”

Tetapi jika ketika saudara membutuhkan pertolongan kita justru pergi dan meninggalkannya, maka kasih kita hanya tinggal kata-kata.

Karena itu, iman yang hidup adalah iman yang menghasilkan tindakan kasih.

Ayat 29

“Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: Dan siapakah sesamaku manusia?”

Di sinilah persoalan mulai terlihat.

Ahli Taurat ingin “membenarkan dirinya.”

Ia bertanya, “Siapa sesamaku?”

Pertanyaan itu sebenarnya ingin menetapkan batas.

Siapa yang harus saya kasihi?

Apakah hanya orang yang dekat?

Apakah hanya orang yang satu bangsa?

Apakah hanya orang yang satu agama?

Apakah hanya orang yang baik kepada saya?

Dengan pertanyaan ini, ia ingin membuat kasih memiliki batas.

Tetapi Yesus akan menunjukkan bahwa kasih tidak dapat dibatasi oleh kepentingan pribadi.

Ayat 30

“Jawab Yesus: Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.”

Yesus mulai menceritakan sebuah perumpamaan.

Orang ini sedang melakukan perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Dalam perjalanan, ia dirampok, dipukuli, dan ditinggalkan hampir mati.

Kita perlu memperhatikan keadaannya.

Ia tidak sedang mencari masalah.

Ia tidak melakukan sesuatu yang salah.

Ia hanya menjadi korban kejahatan.

Dan dalam keadaan seperti itulah pertanyaan tentang kasih menjadi nyata:

Apa yang akan dilakukan orang lain ketika melihat penderitaannya?

Dalam kehidupan sekarang, kita juga menemukan banyak orang “setengah mati”.

Ada yang secara ekonomi hampir tidak berdaya.

Ada yang mengalami kesepian.

Ada yang terluka karena konflik keluarga.

Ada yang kehilangan pekerjaan.

Ada yang mengalami kegagalan.

Ada yang sakit.

Ada yang mengalami tekanan hidup tetapi tidak berani menceritakannya.

Ada pula orang yang secara lahiriah terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang terluka dalam batinnya.

Pertanyaannya adalah:

Apakah kita melihat mereka?

Ayat 31

“Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.”

Tokoh pertama yang melihat orang tersebut adalah seorang imam.

Imam adalah orang yang mempunyai kedudukan keagamaan.

Ia kemungkinan besar mengetahui hukum Tuhan.

Ia seharusnya mengerti tentang kasih dan belas kasihan.

Tetapi apa yang ia lakukan?

Ia melihat, tetapi kemudian melewatinya.

Ini sangat penting.

Masalahnya bukan bahwa ia tidak melihat.

Ia melihat.

Tetapi ia tidak bertindak.

Di dalam kehidupan kita, terkadang kita juga seperti imam ini.

Kita melihat orang yang membutuhkan.

Kita tahu ada masalah.

Kita tahu ada orang yang sedang kesulitan.

Tetapi kita memilih tidak terlibat.

Kita berkata:

“Bukan urusan saya.”

“Ada orang lain yang bisa menolong.”

“Saya juga sedang sibuk.”

“Saya takut ikut campur.”

Imam tersebut mengajarkan kepada kita bahwa melihat penderitaan tanpa tindakan kasih adalah bentuk ketidakpedulian.

Ayat 32

“Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.”

Kemudian datang seorang Lewi.

Ia juga adalah bagian dari kelompok keagamaan.

Ia juga melihat orang tersebut.

Tetapi hasilnya sama.

Ia melewati orang itu.

Dua orang yang mempunyai latar belakang religius tidak menunjukkan kasih.

Di sini Yesus memberikan kritik yang sangat tajam terhadap religiusitas yang hanya berada pada pengetahuan dan identitas.

Menjadi orang beragama tidak otomatis membuat seseorang menjadi penuh kasih.

Menjadi pelayan gereja tidak otomatis berarti selalu peka terhadap penderitaan.

Menjadi orang yang rajin beribadah tidak berarti kita bebas dari sikap acuh tak acuh.

Karena itu, pertanyaan bagi kita adalah:

Apakah kehidupan beragama kita menghasilkan kasih yang nyata?

Ayat 33

“Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.”

Sekarang datang tokoh yang sangat mengejutkan: orang Samaria.

Hubungan orang Yahudi dan Samaria pada zaman itu sangat buruk. Ada sejarah panjang permusuhan dan perbedaan antara keduanya.

Karena itu, para pendengar Yesus mungkin tidak menduga bahwa orang Samaria akan menjadi tokoh yang menunjukkan kasih.

Tetapi inilah cara Yesus bekerja.

Orang yang dianggap tidak layak justru menjadi teladan kasih.

Ayat ini mengatakan:

“tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.”

Inilah titik penting.

Kasih dimulai dari hati yang peka.

Ia melihat penderitaan orang lain dan hatinya tersentuh.

Kasih membuat hati kita tidak nyaman ketika melihat orang lain menderita.

Kasih membuat kita bertanya:

“Apa yang dapat saya lakukan untuk menolongnya?”


Ayat 34

“Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.”

Perhatikan tindakan orang Samaria ini.

Kasihnya bukan hanya perasaan.

Kasih menjadi tindakan.

Ia:

  1. mendekati orang yang terluka,

  2. membalut luka-lukanya,

  3. menggunakan minyak dan anggur,

  4. menaikkan korban ke kendaraannya,

  5. membawanya ke penginapan,

  6. dan merawatnya.

Di sini kita melihat bahwa kasih memiliki pengorbanan.

Ia harus menghentikan perjalanannya.

Ia harus menggunakan waktunya.

Ia menggunakan miliknya.

Ia mengambil risiko.

Ia bersedia repot.

Ini adalah gambaran kasih yang sejati.

Kasih tidak selalu nyaman.

Kasih terkadang menuntut kita mengorbankan waktu.

Kasih terkadang menuntut kita mengeluarkan tenaga.

Kasih terkadang menuntut kita mengeluarkan biaya.

Kasih terkadang meminta kita meninggalkan kenyamanan demi menolong seseorang.

Ayat 35

“Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, ketika aku kembali.”

Pengorbanan orang Samaria tidak berhenti pada pertolongan sementara.

Ia bahkan menyediakan biaya untuk perawatan orang tersebut.

Ia tidak berkata:

“Saya sudah menolong, selesai.”

Sebaliknya, ia memastikan korban tersebut tetap dirawat.

Ini menunjukkan bahwa kasih memiliki tanggung jawab dan ketekunan.

Dalam kehidupan gereja, kita juga dipanggil bukan hanya memberi pertolongan sekali lalu melupakan, tetapi memiliki kepedulian yang berkelanjutan.

Ketika seseorang sakit, jangan hanya menjenguk satu kali.

Ketika seseorang sedang berduka, jangan hanya hadir pada hari pertama.

Ketika seseorang mengalami masalah ekonomi, jangan hanya berkata, “Tuhan menolong.”

Terkadang Tuhan memakai tangan kita untuk menjadi jawaban bagi doa orang lain.

Ayat 36

“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”

Perhatikan perubahan pertanyaan.

Ahli Taurat bertanya:

“Siapakah sesamaku?”

Tetapi Yesus bertanya:

“Siapakah yang menjadi sesama?”

Jadi persoalannya bukan lagi:

“Siapa yang pantas saya kasihi?”

Melainkan:

“Apakah saya mau menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan?”

Ini adalah perubahan cara pandang yang sangat penting.

Kita tidak diperintahkan untuk sibuk menentukan siapa yang layak menerima kasih kita.

Kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang menunjukkan kasih.

Ayat 37

“Jawab orang itu: Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya. Kata Yesus kepadanya: Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Ahli Taurat akhirnya menjawab dengan benar.

Ia bahkan tidak menyebut kata “Samaria”. Ia hanya mengatakan:

“Orang yang telah menunjukkan belas kasihan.”

Kemudian Yesus memberikan perintah:

“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Ini adalah penutup yang kuat.

Yesus tidak berkata:

“Pergilah dan pikirkan.”

Tidak juga:

“Pergilah dan bicarakan.”

Tetapi:

“Pergilah, dan perbuatlah demikian.”

Artinya, Firman Tuhan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kasih harus menjadi tindakan.

Belas kasihan harus menjadi kehidupan.

4. HUBUNGAN DENGAN TEMA: KASIH KEPADA ALLAH DAN SESAMA MANUSIA

Tema kita hari ini adalah:

“Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia.”

Lukas 10:25–37 memperlihatkan bahwa kedua kasih ini tidak dapat dipisahkan.

1. Mengasihi Allah berarti hidup menurut kehendak-Nya

Mengasihi Allah bukan hanya dengan ucapan.

Kita mengasihi Allah dengan menaati Firman-Nya.

Ketika Tuhan memerintahkan kita mengasihi sesama, maka ketaatan kepada perintah itu merupakan bentuk kasih kita kepada Allah.

2. Mengasihi sesama adalah bukti kasih kepada Allah

Kasih kepada Allah menjadi nyata melalui kasih kepada manusia.

Kalau kita berkata:

“Ya Tuhan, saya mengasihi Engkau,”

tetapi kita terus menyimpan kebencian, iri hati, dendam, dan permusuhan kepada sesama, maka ada sesuatu yang harus kita periksa dalam kehidupan iman kita.

3. Kasih tidak dibatasi oleh perbedaan

Orang Samaria menjadi contoh bahwa kasih melampaui:

  • suku,

  • status sosial,

  • kelompok,

  • latar belakang,

  • perbedaan,

  • dan permusuhan masa lalu.

Kasih Kristen adalah kasih yang mampu menembus batas.

4. Kasih harus diwujudkan dalam tindakan

Kasih bukan hanya berkata:

“Saya mendoakanmu.”

Kasih juga dapat berbentuk:

“Apakah saya bisa membantu?”

Kasih bukan hanya rasa iba.

Kasih adalah tindakan nyata.

5. RELEVANSI DALAM KEHIDUPAN JEMAAT

A. Jemaat dipanggil menjadi jemaat yang peka

Kita hidup di tengah dunia yang banyak penderitaan.

Jangan menjadi jemaat yang hanya sibuk dengan kegiatan gereja tetapi tidak peka terhadap penderitaan sekitar.

Mari belajar melihat.

Melihat orang yang kesepian.

Melihat keluarga yang sedang mengalami kesulitan.

Melihat orang yang sakit.

Melihat orang yang sedang berduka.

Melihat anak-anak yang membutuhkan perhatian.

Melihat kaum muda yang sedang mengalami pergumulan.

Terkadang pertolongan Tuhan datang melalui kepedulian kita.

B. Jangan hanya menjadi “orang yang melihat”

Imam melihat.

Lewi melihat.

Tetapi mereka pergi.

Pertanyaannya bagi kita:

Ketika kita melihat kebutuhan, apa yang kita lakukan?

Jangan hanya melihat.

Jangan hanya membicarakan.

Jangan hanya mengomentari.

Tetapi bertindak.

Satu telepon.

Satu kunjungan.

Satu doa.

Satu bantuan.

Satu perkataan yang menguatkan.

Satu tindakan sederhana dapat menjadi berkat besar bagi seseorang.

C. Gereja harus menjadi tempat kasih nyata

Gereja bukan hanya tempat berkumpul setiap hari Minggu.

Gereja dipanggil menjadi komunitas yang menghadirkan kasih Kristus.

Jemaat harus saling memperhatikan.

Ketika ada yang sakit, dikunjungi.

Ketika ada yang berduka, didampingi.

Ketika ada yang mengalami kesulitan, dibantu.

Ketika ada yang jatuh dalam masalah, bukan langsung dihakimi, tetapi dirangkul dan dibimbing.

Gereja harus menjadi tempat di mana orang dapat mengalami:

“Saya tidak sendirian.”

D. Kasih dimulai dari keluarga

Sebelum kita berbicara tentang mengasihi masyarakat luas, kita perlu mulai dari keluarga.

Apakah suami mengasihi istri?

Apakah istri menghormati suami?

Apakah orang tua memperhatikan anak-anak?

Apakah anak-anak menghormati orang tua?

Apakah saudara kandung saling menopang?

Kadang-kadang kita mudah mengasihi orang jauh tetapi sulit mengasihi orang serumah.

Karena itu, Injil hari ini memanggil kita kembali untuk memulai kasih dari rumah.

E. Jangan membangun batas terhadap sesama

Kita sering mempunyai kategori:

“Ini orang saya.”

“Ini bukan orang saya.”

“Dia sekelompok dengan saya.”

“Dia bukan kelompok saya.”

Tetapi Yesus menghancurkan batas-batas tersebut.

Orang yang berbeda pun adalah sesama.

Orang yang pernah menyakiti kita pun tetap manusia yang membutuhkan kasih.

Orang yang berbeda pendapat dengan kita tetap harus diperlakukan dengan hormat.

Kasih Kristen bukan berarti menyetujui semua tindakan seseorang, tetapi tetap memperlakukan manusia sebagai manusia yang berharga di hadapan Allah.

F. Belas kasihan harus mengalahkan kenyamanan

Imam dan Lewi memilih kenyamanan.

Orang Samaria memilih belas kasihan.

Kadang-kadang kita juga harus memilih.

Apakah kita akan tetap nyaman atau mau berkorban?

Apakah kita mau meluangkan waktu?

Apakah kita mau berhenti dari kesibukan?

Apakah kita mau membantu meskipun tidak mendapatkan balasan?

Kasih sejati sering kali meminta pengorbanan.

6. PESAN PENTING BAGI JEMAAT

Dari Lukas 10:25–37, setidaknya ada beberapa pesan penting bagi kita.

Pertama:

Kasih kepada Allah harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan hanya mengasihi Allah dengan bibir, tetapi tunjukkan melalui tindakan kasih kepada sesama.

Kedua:

Sesama bukan hanya orang yang kita sukai.

Setiap orang yang membutuhkan belas kasihan dapat menjadi sesama yang Tuhan tempatkan di hadapan kita.

Ketiga:

Kasih membutuhkan tindakan.

Jangan berhenti pada rasa iba.

Kasihilah dengan tindakan nyata.

Keempat:

Kasih membutuhkan pengorbanan.

Waktu, tenaga, perhatian, bahkan materi dapat dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Kelima:

Jadilah sesama bagi orang lain.

Pertanyaan terbesar bukan:

“Siapa sesamaku?”

Tetapi:

“Apakah saya telah menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan?”

7. PENUTUP

Bapak/Ibu dan saudara-saudari yang terkasih,

Lukas 10:25–37 mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan orang percaya tidak dapat dipisahkan dari kasih.

Kita dipanggil untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi.

Tetapi kasih kepada Allah harus terlihat melalui kasih kepada sesama.

Hari ini Yesus menunjukkan kepada kita seorang Samaria yang murah hati.

Ia melihat.

Ia tergerak.

Ia mendekat.

Ia menolong.

Ia berkorban.

Ia merawat.

Itulah kasih yang nyata.

Karena itu, marilah kita meninggalkan kehidupan iman yang hanya berhenti pada pengetahuan, perkataan, atau ibadah formal.

Marilah kita menjadi gereja yang peka.

Menjadi keluarga yang penuh kasih.

Menjadi jemaat yang saling memperhatikan.

Menjadi orang percaya yang hadir bagi mereka yang membutuhkan.

Dan ketika Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang yang sedang terluka, kiranya kita tidak memilih untuk melewati dari seberang jalan.

Kiranya kita berhenti.

Mendekat.

Menolong.

Mengasihi.

Sebab kepada kita Tuhan Yesus berkata:

“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Kiranya kasih kita kepada Allah semakin nyata melalui kasih kita kepada sesama.

Amin.

Kalimat inti khotbah

“Kasih kepada Allah tidak boleh berhenti di hadapan altar, tetapi harus terlihat dalam kehidupan ketika kita menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan.”

Poin utama untuk disampaikan kepada jemaat

Kasih kepada Allah → diwujudkan dalam kasih kepada sesama → kasih bukan hanya diketahui, tetapi dilakukan → menjadi sesama bagi siapa pun yang membutuhkan.

Post a Comment

silakan Komentar dengan baik
Total Pageviews
Times/ Waktu
Waktu di Kota Medan: