KHOTBAH MINGGU XIII SETELAH TRINITATIS
Nas: Yeremia 15:15–21Tema: “Firman Tuhan Menjadi Kegirangan Bagiku”
1. Pendahuluan
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengalami keadaan yang membuat hati tidak tenang. Ada saat kita bersukacita, tetapi ada juga saat kita kecewa, lelah, merasa sendiri, bahkan bertanya: “Tuhan, mengapa semua ini terjadi kepada saya?”
Menariknya, pengalaman seperti itu juga dialami oleh Nabi Yeremia. Yeremia bukanlah seorang nabi yang hidup tanpa pergumulan. Ia dipanggil Tuhan untuk menyampaikan firman kepada bangsa Yehuda, tetapi pemberitaannya sering ditolak. Ia dicela, dibenci, bahkan mengalami penderitaan karena kesetiaannya kepada Tuhan.
Namun di tengah pergumulannya, Yeremia mengatakan sesuatu yang sangat indah:
“Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku dan menjadi kesukaan hatiku.” (Yeremia 15:16)
Firman Tuhan menjadi kegirangan bagi Yeremia bukan karena hidupnya mudah, melainkan karena di tengah hidup yang sulit ia menemukan kekuatan, pengharapan, dan sukacita di dalam firman Tuhan.
Inilah yang menjadi pesan bagi kita pada Minggu XIII Setelah Trinitatis: sukacita orang percaya tidak selalu lahir dari keadaan yang baik, tetapi dapat lahir dari hubungan yang dekat dengan firman Tuhan.
Ketika keadaan berubah, firman Tuhan tetap menjadi pegangan. Ketika manusia mengecewakan, firman Tuhan tetap memberi penghiburan. Ketika hati kita lemah, firman Tuhan menjadi kekuatan.
2. Latar Belakang Kitab Yeremia
Kitab Yeremia berisi pelayanan Nabi Yeremia kepada bangsa Yehuda dalam masa yang penuh dengan krisis rohani dan politik.
Yeremia dipanggil Tuhan untuk menyampaikan peringatan kepada Yehuda karena mereka telah meninggalkan Tuhan. Mereka hidup dalam penyembahan berhala, ketidakadilan, kemerosotan moral, dan ketidaktaatan terhadap kehendak Allah.
Yeremia harus menyampaikan berita yang tidak menyenangkan. Ia memperingatkan bahwa apabila bangsa itu tidak bertobat, mereka akan menghadapi penghukuman dan pembuangan.
Karena pesan yang dibawanya keras dan tidak sesuai dengan keinginan banyak orang, Yeremia mengalami penolakan. Bahkan ia sendiri mengalami penderitaan sebagai akibat dari pelayanannya.
Pasal 15 memperlihatkan pergumulan batin seorang hamba Tuhan. Yeremia merasa terluka, sendiri, dan tertekan. Ia berbicara secara jujur kepada Tuhan mengenai penderitaannya.
Namun di tengah semua itu, terdapat sebuah pengakuan iman yang sangat kuat dalam ayat 16:
“Firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku dan menjadi kesukaan hatiku.”
Jadi, Yeremia bukan seorang nabi yang tidak pernah lemah. Ia justru menunjukkan bahwa seorang yang setia kepada Tuhan pun dapat mengalami pergumulan. Tetapi yang membedakannya adalah: ketika ia lemah, ia kembali kepada Tuhan dan firman-Nya.
3. Tafsiran Ayat per Ayat
Ayat 15 — Yeremia mencurahkan pergumulannya kepada Tuhan
“Ya TUHAN, Engkau mengetahui aku, ingatlah aku dan lihatlah aku...”
Yeremia datang kepada Tuhan dengan hati yang terbuka. Ia meminta Tuhan untuk mengingat dan memperhatikan dirinya.
Di sini kita melihat bahwa iman bukan berarti tidak pernah mengeluh. Yeremia berani mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan.
Ia merasa telah menderita karena kesetiaannya kepada Tuhan.
Pesannya bagi kita adalah: ketika mengalami kesulitan, jangan menjauh dari Tuhan. Datanglah kepada Tuhan.
Sering kali manusia ketika menghadapi masalah justru meninggalkan doa, meninggalkan ibadah, dan menjauh dari firman Tuhan. Yeremia melakukan hal yang berbeda. Dalam penderitaannya, ia tetap datang kepada Tuhan.
Ayat 16 — Firman Tuhan menjadi kegirangan
Inilah ayat utama dari tema khotbah kita:
“Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku dan menjadi kesukaan hatiku...”
Yeremia menggunakan gambaran bahwa firman Tuhan adalah sesuatu yang dinikmati.
Firman Tuhan bukan sekadar kata-kata yang dibaca. Firman Tuhan masuk ke dalam hati dan memberi kekuatan bagi kehidupan.
Yang menarik adalah keadaan Yeremia sebenarnya tidak sedang menyenangkan. Ia menghadapi penolakan dan penderitaan. Tetapi ia mengatakan bahwa firman Tuhan menjadi kegirangan.
Artinya, sukacita sejati tidak bergantung sepenuhnya kepada situasi.
Ada sukacita yang berasal dari Tuhan.
Ketika kita membaca firman Tuhan dan membiarkannya bekerja dalam hati, kita memperoleh penghiburan ketika sedih, kekuatan ketika lemah, petunjuk ketika bingung, dan harapan ketika menghadapi masa depan.
Karena itu pertanyaannya bukan hanya:
“Apakah saya mempunyai masalah?”
Tetapi juga:
“Apakah saya mempunyai firman Tuhan ketika menghadapi masalah itu?”
Ayat 17 — Kesetiaan kepada Tuhan dapat membuat seseorang merasa sendiri
“Aku tidak duduk beria-ria dalam perkumpulan orang-orang yang bersenda gurau...”
Yeremia memilih untuk tidak mengikuti arus hidup bangsanya yang jauh dari Tuhan.
Ia merasakan keterasingan karena panggilannya sebagai nabi.
Kadang-kadang menjadi orang percaya berarti kita harus berdiri berbeda dari lingkungan sekitar.
Ketika orang lain memilih ketidakjujuran, kita memilih kejujuran.
Ketika orang lain membalas kejahatan dengan kejahatan, kita memilih mengampuni.
Ketika orang lain mengutamakan kepentingan diri sendiri, kita belajar melayani.
Kesetiaan kepada Tuhan terkadang membuat kita merasa sendirian.
Tetapi lebih baik berjalan bersama Tuhan dalam kesendirian daripada berjalan bersama banyak orang tetapi jauh dari Tuhan.
Ayat 18 — Pergumulan dan pertanyaan kepada Tuhan
“Mengapa penderitaanku tidak berkesudahan dan lukaku sangat payah, tidak mau sembuh...?”
Yeremia mengalami luka batin.
Ia bertanya kepada Tuhan mengapa penderitaannya terus berlangsung.
Ayat ini memperlihatkan sisi manusiawi seorang hamba Tuhan. Ia tidak berpura-pura kuat.
Dalam kehidupan jemaat juga demikian. Ada orang yang mungkin datang beribadah sambil membawa masalah keluarga, masalah ekonomi, pergumulan pelayanan, kekecewaan, atau beban pribadi yang tidak diketahui orang lain.
Kadang-kadang kita juga bertanya:
“Tuhan, sampai kapan?”
Pertanyaan seperti itu tidak selalu menunjukkan kurangnya iman. Yang penting adalah kepada siapa pertanyaan itu kita bawa.
Yeremia membawanya kepada Tuhan.
Ayat 19 — Tuhan memanggil Yeremia kembali
Tuhan menjawab Yeremia:
“Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan di hadapan-Ku...”
Ada panggilan untuk kembali.
Tuhan tidak membuang Yeremia karena pergumulannya. Tuhan justru memurnikan dan menguatkannya.
Ini menjadi kabar baik bagi kita.
Ketika kita lemah, Tuhan tidak langsung meninggalkan kita.
Ketika kita jatuh, Tuhan memanggil kita kembali.
Ketika kita kecewa, Tuhan mengundang kita untuk kembali percaya.
Tuhan juga berkata agar Yeremia dapat membedakan apa yang berharga dari apa yang tidak berharga.
Sebagai orang percaya, kita harus belajar membedakan mana yang merupakan kehendak Tuhan dan mana yang hanya keinginan manusia.
Ayat 20 — Tuhan menjadi benteng
Tuhan berkata:
“Aku akan membuat engkau bagi bangsa ini sebagai tembok berkubu dari tembaga...”
Yeremia tidak dijanjikan kehidupan tanpa masalah.
Sebaliknya, Tuhan menjanjikan bahwa Ia akan menyertai dan melindungi Yeremia.
Gambaran “tembok berkubu dari tembaga” menunjukkan keteguhan dan kekuatan.
Artinya, kekuatan seorang hamba Tuhan bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi dari Tuhan.
Jemaat juga tidak dipanggil untuk kuat dengan kekuatan sendiri.
Kita dapat berdiri karena Tuhan menopang.
Ayat 21 — Tuhan menyelamatkan dari tangan orang-orang jahat
Tuhan menutup bagian ini dengan janji:
“Aku akan melepaskan engkau dari tangan orang-orang jahat dan membebaskan engkau dari cengkeraman orang-orang lalim.”
Tuhan melihat penderitaan Yeremia.
Tuhan mengetahui apa yang dialaminya.
Dan Tuhan menjanjikan pembebasan.
Ini bukan berarti setiap masalah akan langsung hilang. Tetapi kita percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan orang yang setia kepada-Nya.
4. Relevansi dan Kehidupan Jemaat
Firman Tuhan dalam Yeremia 15:15–21 sangat dekat dengan kehidupan jemaat.
Pertama, Firman Tuhan harus menjadi sumber sukacita.
Sering kali kita mencari sukacita dari hal-hal yang bersifat sementara: uang, jabatan, kesenangan, keberhasilan, pujian manusia, atau kepemilikan.
Semua itu dapat berubah.
Tetapi firman Tuhan tetap.
Karena itu, jangan hanya membuka Alkitab ketika sedang menghadapi masalah.
Bacalah firman Tuhan setiap hari karena kita membutuhkan Tuhan setiap hari.
Kedua, jangan menjauh dari Tuhan ketika menghadapi pergumulan.
Yeremia mengalami penderitaan tetapi ia tetap berbicara kepada Tuhan.
Demikian juga jemaat.
Ketika keluarga menghadapi masalah, jangan meninggalkan Tuhan.
Ketika pelayanan terasa berat, jangan berhenti melayani.
Ketika doa terasa belum dijawab, jangan berhenti berdoa.
Ketika hidup terasa gelap, tetaplah berpegang pada firman Tuhan.
Sebab mungkin kita tidak dapat melihat jalan di depan kita, tetapi Tuhan mengetahui jalan itu.
Ketiga, jangan mengukur sukacita dari keadaan.
Yeremia mengalami keadaan yang tidak menyenangkan, tetapi firman Tuhan tetap menjadi kegirangan.
Ini penting bagi kehidupan jemaat.
Jangan berkata:
“Saya baru bisa bersukacita kalau masalah saya selesai.”
Sebaliknya, belajarlah berkata:
“Meskipun masalah saya belum selesai, saya tetap dapat bersukacita karena Tuhan bersama saya.”
Inilah sukacita yang berasal dari iman.
Keempat, jadikan firman Tuhan sebagai pedoman kehidupan.
Firman Tuhan bukan hanya untuk didengar pada hari Minggu.
Firman Tuhan harus menjadi dasar ketika kita mengambil keputusan.
Dalam keluarga, pekerjaan, pendidikan, pelayanan, hubungan dengan sesama, bahkan dalam menghadapi konflik, kita membutuhkan firman Tuhan sebagai pedoman.
Jemaat yang kuat bukan hanya jemaat yang banyak mengetahui ayat Alkitab, tetapi jemaat yang hidup berdasarkan firman Tuhan.
Kelima, tetap setia sekalipun tidak selalu dihargai.
Yeremia menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak selalu menghasilkan pujian manusia.
Kadang-kadang kita melakukan yang benar tetapi tidak dihargai.
Kadang-kadang kita melayani tetapi tidak dipuji.
Kadang-kadang kita berbuat baik tetapi justru disalahpahami.
Jangan berhenti.
Karena ukuran kesetiaan kita bukanlah penghargaan manusia, tetapi apakah kita tetap setia kepada Tuhan.
Penutup
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Yeremia 15:15–21 memperlihatkan seorang hamba Tuhan yang sedang bergumul. Ia terluka, kecewa, merasa sendiri, dan bahkan bertanya kepada Tuhan.
Tetapi di tengah semuanya itu, ia mempunyai satu pegangan yang tidak berubah:
“Firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku dan menjadi kesukaan hatiku.”
Inilah pesan bagi kita pada Minggu XIII Setelah Trinitatis.
Jangan mencari kegirangan hanya dari keadaan hidup yang baik. Carilah kegirangan di dalam Tuhan dan firman-Nya.
Ketika hidup kita sedang baik, firman Tuhan mengajarkan kita bersyukur.
Ketika hidup kita sedang sulit, firman Tuhan menguatkan.
Ketika kita bingung, firman Tuhan menuntun.
Ketika kita jatuh, firman Tuhan memanggil kita kembali.
Dan ketika kita merasa sendiri, firman Tuhan mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
Karena itu marilah kita menjadi jemaat yang mencintai firman Tuhan, membaca firman Tuhan, mendengarkan firman Tuhan, dan terutama melakukan firman Tuhan.
Kiranya setiap kali kita bertemu dengan firman Tuhan, hati kita kembali berkata:
“Firman-Mu menjadi kegirangan bagiku dan menjadi kesukaan hatiku.”
Amin.


Post a Comment