KHOTBAH LUKAS 10:25–37
Tema: “Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia”
Minggu XIV Setelah Trinitatis
1. Pendahuluan
Shalom, Bapak/Ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan.
Setiap orang tentu ingin dikasihi. Kita ingin diterima, diperhatikan, ditolong, dan dihargai oleh orang lain. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita juga sungguh-sungguh mengasihi orang lain? Lebih khusus lagi, apakah kita mengasihi orang yang berbeda dengan kita, orang yang tidak dekat dengan kita, bahkan orang yang mungkin tidak kita sukai?
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita mudah mengasihi orang yang mengasihi kita. Kita senang menolong keluarga, sahabat, atau orang yang kita kenal. Tetapi ketika berhadapan dengan orang yang berbeda latar belakang, berbeda pendapat, atau bahkan pernah menyakiti kita, kasih itu menjadi lebih sulit dilakukan.
Lukas 10:25–37 memperlihatkan kepada kita bahwa kasih bukan hanya persoalan perkataan atau perasaan. Kasih harus nyata dalam tindakan. Hal ini terlihat dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati.
Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Yesus kemudian mengarahkan perhatian kepada dua perintah utama: mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.
Perumpamaan orang Samaria menunjukkan bahwa sesama bukan hanya orang yang dekat dengan kita. Sesama adalah setiap orang yang membutuhkan pertolongan kita.
Karena itu, tema khotbah kita pada Minggu XIV Setelah Trinitatis ini adalah:
“Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia.”
Kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama. Orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah akan menunjukkan kasih itu melalui kepedulian kepada manusia.
2. Latar Belakang Kitab Lukas
Injil Lukas merupakan salah satu dari empat Injil dalam Perjanjian Baru. Injil ini secara tradisional dikaitkan dengan Lukas, seorang yang dikenal sebagai rekan pelayanan Paulus dan seorang yang memiliki perhatian besar terhadap karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus.
Lukas menulis Injilnya dengan tujuan memberikan pemahaman yang teratur dan kokoh mengenai kehidupan serta pelayanan Yesus. Dalam Injil Lukas, kita melihat perhatian Yesus yang sangat kuat kepada orang-orang yang sering dianggap kecil, lemah, tersisih, miskin, berdosa, dan tidak diperhitungkan oleh masyarakat.
Hal ini sangat terlihat dalam Lukas 10:25–37. Yesus menggunakan seorang Samaria sebagai contoh orang yang benar-benar melakukan kasih. Pada masa itu, orang Yahudi dan orang Samaria memiliki hubungan yang kurang baik. Mereka mempunyai perbedaan dalam sejarah, kehidupan sosial, dan keagamaan.
Namun justru orang Samaria itulah yang menunjukkan belas kasihan kepada seseorang yang terluka.
Bagian ini muncul dalam perjalanan Yesus menuju Yerusalem. Dalam perjalanan itu, Yesus terus mengajar para murid dan orang banyak mengenai bagaimana menjalani kehidupan sebagai umat Kerajaan Allah.
Yang menarik, pertanyaan tentang kasih ini tidak datang dari seseorang yang tidak mengenal hukum Taurat. Justru yang bertanya adalah seorang ahli Taurat. Ia tahu hukum Tuhan, tetapi pertanyaannya menunjukkan bahwa mengetahui hukum belum tentu berarti melakukannya.
Dengan demikian, Lukas 10:25–37 mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang mengetahui firman Tuhan, tetapi tentang melakukannya dalam kehidupan nyata.
3. Tafsiran Lukas 10:25–37
Ayat 25 – Pertanyaan tentang hidup yang kekal
Seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan bertanya:
“Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
Pertanyaan ini sebenarnya sangat penting. Ia ingin mengetahui jalan menuju hidup yang kekal.
Tetapi Lukas mengatakan bahwa ia bertanya untuk mencobai Yesus. Artinya, pertanyaan tersebut bukan semata-mata karena ia ingin belajar, tetapi juga untuk menguji Yesus.
Di sini kita belajar bahwa seseorang bisa sangat memahami persoalan agama, tetapi belum tentu memiliki hati yang benar di hadapan Tuhan.
Pengetahuan tentang firman Tuhan harus membawa kita semakin dekat kepada Tuhan dan semakin mengasihi sesama.
Ayat 26 – Yesus mengarahkan kepada firman Tuhan
Yesus tidak langsung menjawab. Ia justru bertanya:
“Apa yang tertulis dalam hukum Taurat?”
Yesus membawa ahli Taurat itu kembali kepada firman Tuhan.
Ini menunjukkan bahwa dasar kehidupan orang percaya adalah firman Allah.
Ketika kita bertanya bagaimana seharusnya hidup sebagai orang percaya, jawabannya tidak terutama berasal dari keinginan manusia, tetapi dari kehendak Tuhan yang dinyatakan dalam firman-Nya.
Ayat 27 – Dua bentuk kasih yang tidak dapat dipisahkan
Ahli Taurat menjawab dengan benar:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Di sinilah pusat dari nas kita.
Ada dua arah kasih:
Pertama, kasih kepada Allah.
Mengasihi Allah berarti memberikan seluruh hidup kita kepada-Nya: hati, jiwa, kekuatan, dan pikiran.
Artinya, Tuhan tidak boleh hanya menjadi bagian kecil dari kehidupan kita. Tuhan harus menjadi pusat kehidupan kita.
Kedua, kasih kepada sesama.
Mengasihi sesama seperti diri sendiri berarti kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Kita tidak boleh memisahkan kedua kasih ini.
Tidak mungkin kita berkata, “Saya sangat mengasihi Tuhan,” tetapi pada saat yang sama kita tidak peduli terhadap orang yang membutuhkan pertolongan.
Kasih kepada Allah seharusnya menghasilkan kasih kepada sesama.
Ayat 28 – Bukan hanya mengetahui, tetapi melakukan
Yesus berkata:
“Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”
Perhatikan kata “perbuatlah.”
Yesus tidak berhenti pada pengetahuan. Ahli Taurat itu sudah mengetahui jawabannya. Yang menjadi persoalan adalah apakah ia melakukannya.
Inilah salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan iman.
Kita bisa mengetahui banyak ayat Alkitab. Kita bisa rajin beribadah. Kita bisa mengikuti berbagai kegiatan gereja. Tetapi pertanyaannya:
Apakah firman Tuhan benar-benar terlihat dalam kehidupan kita?
Kasih harus diwujudkan.
Kasih bukan hanya berkata, “Saya peduli.”
Kasih adalah ketika kita benar-benar menolong.
Kasih adalah ketika kita mengampuni.
Kasih adalah ketika kita hadir bagi orang yang sedang mengalami kesusahan.
Ayat 29 – “Siapakah sesamaku manusia?”
Ahli Taurat itu ingin membenarkan dirinya. Karena itu ia bertanya:
“Dan siapakah sesamaku manusia?”
Pertanyaan ini sebenarnya memperlihatkan keinginan manusia untuk memberikan batas terhadap kasih.
Seolah-olah ia ingin bertanya:
“Siapa yang wajib saya kasihi dan siapa yang tidak perlu saya kasihi?”
Sering kali manusia juga melakukan hal yang sama.
Kita membuat batas:
“Ini keluarga saya.”
“Ini teman saya.”
“Ini kelompok saya.”
“Ini orang yang sependapat dengan saya.”
Tetapi Yesus justru menghancurkan batas-batas tersebut.
Ayat 30 – Orang yang dirampok dan ditinggalkan
Yesus menceritakan tentang seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Dalam perjalanan, ia dirampok, dipukuli, ditelanjangi, dan ditinggalkan dalam keadaan hampir mati.
Orang ini tidak dijelaskan siapa namanya, dari kelompok mana, atau latar belakangnya.
Yang Yesus tunjukkan adalah satu hal:
Ia adalah seorang manusia yang sedang membutuhkan pertolongan.
Dalam kehidupan ini, banyak orang seperti orang yang dirampok tersebut.
Ada yang sedang mengalami kesusahan ekonomi.
Ada yang sedang sakit.
Ada yang kesepian.
Ada yang sedang mengalami konflik dalam keluarga.
Ada yang kehilangan pekerjaan.
Ada yang mengalami pergumulan iman.
Kadang-kadang mereka tidak membutuhkan banyak kata. Mereka membutuhkan seseorang yang mau hadir dan menolong.
Ayat 31 – Imam melihat tetapi melewatinya
Seorang imam kebetulan lewat di tempat itu.
Ia melihat orang yang terluka tersebut, tetapi ia melewatinya.
Perhatikan bahwa imam itu melihat.
Masalahnya bukan ia tidak tahu.
Masalahnya adalah ia tidak bertindak.
Hal ini menjadi peringatan bagi kita.
Kita bisa melihat penderitaan orang lain, tetapi memilih diam.
Kita bisa tahu bahwa seseorang sedang membutuhkan pertolongan, tetapi berkata:
“Bukan urusan saya.”
“Keluarganya pasti akan menolong.”
“Saya juga punya masalah.”
Iman yang benar tidak berhenti pada melihat. Iman harus menghasilkan tindakan kasih.
Ayat 32 – Orang Lewi juga melewati
Kemudian seorang Lewi datang. Ia juga melihat orang itu, tetapi melewatinya.
Dua orang yang dikenal sebagai bagian dari kehidupan keagamaan telah melihat penderitaan itu, tetapi tidak melakukan apa-apa.
Ini menjadi kritik Yesus terhadap kehidupan beragama yang hanya berhenti pada ritual.
Kita tidak boleh menjadi orang yang rajin datang ke gereja tetapi tidak memiliki kepedulian terhadap sesama.
Kita tidak boleh menyanyikan tentang kasih Tuhan, tetapi tidak menunjukkan kasih itu kepada orang lain.
Kehidupan gereja seharusnya menghasilkan kasih yang nyata.
Ayat 33 – Orang Samaria datang dan tergerak oleh belas kasihan
Kemudian datanglah seorang Samaria.
Ketika ia melihat orang itu, ia tergerak oleh belas kasihan.
Ini sangat penting.
Yesus sengaja memilih orang Samaria sebagai tokoh utama dalam perumpamaan ini.
Orang yang dianggap berbeda dan bahkan dipandang rendah oleh orang Yahudi justru menjadi contoh bagaimana kasih itu dilakukan.
Belas kasihan membuat orang Samaria tersebut tidak hanya melihat, tetapi bergerak.
Kasih sejati selalu mendorong kita untuk melakukan sesuatu.
Ayat 34 – Kasih yang diwujudkan dalam tindakan
Orang Samaria itu mendekati orang yang terluka.
Ia membalut luka-lukanya.
Ia menyiramnya dengan minyak dan anggur.
Ia menaikkannya ke atas keledainya.
Ia membawanya ke penginapan dan merawatnya.
Perhatikan tindakan-tindakannya.
Ia:
melihat → mendekat → menolong → merawat.
Inilah kasih yang sejati.
Kasih bukan hanya perasaan iba dari kejauhan.
Kasih membuat seseorang mau mendekat dan mengambil bagian dalam penderitaan orang lain.
Ayat 35 – Kasih mengorbankan sesuatu
Keesokan harinya orang Samaria itu memberikan dua dinar kepada pemilik penginapan dan berkata:
“Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.”
Ia tidak hanya memberikan waktu.
Ia juga memberikan tenaga.
Ia memberikan perhatian.
Ia memberikan harta miliknya.
Dengan kata lain, kasih membutuhkan pengorbanan.
Mengasihi sesama terkadang berarti kita harus kehilangan kenyamanan, waktu, tenaga, bahkan uang.
Tetapi itulah kasih yang diajarkan Kristus.
Ayat 36 – Yesus mengubah pertanyaan
Yesus kemudian bertanya kepada ahli Taurat:
“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
Perhatikan perubahan pertanyaannya.
Ahli Taurat bertanya:
“Siapakah sesamaku?”
Tetapi Yesus mengubahnya menjadi:
“Siapakah yang menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan?”
Jadi, persoalannya bukan lagi mencari siapa yang layak kita kasihi.
Persoalannya adalah:
Apakah saya mau menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan?
Itulah inti ajaran Yesus.
Ayat 37 – “Pergilah dan perbuatlah demikian”
Ahli Taurat menjawab bahwa orang yang telah menunjukkan belas kasihan itulah sesama.
Kemudian Yesus berkata:
“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Ini merupakan penutup yang sangat kuat.
Yesus tidak berkata:
“Pergilah dan pikirkanlah.”
Yesus tidak berkata:
“Pergilah dan bicarakanlah.”
Yesus berkata:
“Pergilah dan perbuatlah.”
Artinya, setelah mendengar firman Tuhan, kita dipanggil untuk mempraktikkannya.
Kasih harus bergerak dari gereja menuju rumah.
Dari ibadah menuju kehidupan sehari-hari.
Dari kata-kata menjadi tindakan.
4. Relevansi dalam Kehidupan Jemaat
A. Kasih kepada Allah harus menjadi dasar kehidupan
Kasih kepada Allah berarti menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan.
Mengasihi Tuhan bukan hanya datang ke gereja setiap hari Minggu. Kita juga dipanggil untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan setiap hari.
Kita menunjukkan kasih kepada Allah melalui ketaatan, doa, ibadah, pelayanan, dan kehidupan yang benar.
Pertanyaan bagi kita:
Apakah Tuhan benar-benar menjadi pusat kehidupan kita?
B. Kasih kepada sesama adalah bukti iman
Kita tidak boleh memisahkan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Ketika kita mengasihi Tuhan, kita harus belajar melihat manusia dengan kasih Tuhan. Dalam kehidupan jemaat, kasih dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana: mengunjungi orang sakit, menghibur yang berdukacita, membantu keluarga yang mengalami kesulitan, menguatkan orang yang sedang lemah, mendengarkan orang yang sedang mengalami masalah, mengampuni orang yang bersalah kepada kita,dan memperhatikan mereka yang sering terlupakan. Tidak semua bentuk kasih harus besar. Sering kali tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus justru sangat berarti.
C. Jangan menjadi seperti imam dan orang Lewi
Kita perlu berhati-hati agar kehidupan kita tidak hanya sebatas melihat kebutuhan orang lain tanpa melakukan apa-apa. Jemaat Tuhan jangan sampai memiliki sikap: “Saya sudah cukup dengan urusan saya sendiri.” Kita dipanggil untuk menjadi jemaat yang peduli, Gereja bukan hanya tempat orang berkumpul untuk beribadah, tetapi juga tempat kasih Kristus dinyatakan kepada dunia.
D. Jangan membatasi siapa yang layak kita kasihi
Orang Samaria membantu seseorang yang secara sosial dan budaya berbeda darinya.
Ini mengajarkan bahwa kasih Kristen tidak boleh dibatasi oleh suku, status sosial, kedekatan, perbedaan pendapat, atau kelompok. Sering kali kita lebih mudah mengasihi orang yang sama dengan kita. Tetapi Yesus mengajar kita untuk mengasihi lebih luas Bahkan kepada orang yang berbeda dari kita.
E. Kasih membutuhkan pengorbanan
Orang Samaria itu memberikan waktu, tenaga, perhatian, dan biaya. Karena itu jangan heran apabila mengasihi orang lain kadang melelahkan. Mengasihi keluarga membutuhkan kesabaran. Mengasihi pasangan membutuhkan pengertian. Mengasihi anak membutuhkan waktu. Mengasihi jemaat membutuhkan pengorbanan. Mengasihi orang yang berbeda dengan kita membutuhkan kerendahan hati. Tetapi Kristus sendiri telah terlebih dahulu menunjukkan kasih yang berkorban kepada kita.
5. Pesan Utama bagi Jemaat
Dari Lukas 10:25–37, ada tiga pesan penting:
Pertama: Kasih kepada Allah adalah dasar kehidupan orang percaya.
Kita dipanggil mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi.
Kedua: Kasih kepada sesama harus diwujudkan dalam tindakan.
Kasih bukan sekadar perkataan, tetapi tindakan nyata untuk menolong dan memperhatikan orang lain.
Ketiga: Setiap orang yang membutuhkan adalah kesempatan bagi kita untuk menjadi sesama.
Jangan bertanya, “Siapa yang harus saya kasihi?” tetapi bertanyalah, “Kepada siapa hari ini saya dapat menunjukkan kasih Tuhan?”
6. Penutup
Bapak/Ibu dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan kita, mungkin ada banyak orang yang terluka tetapi tidak terlihat. Ada keluarga yang sedang berjuang. Ada orang yang tersenyum tetapi hatinya sedang menangis. Ada orang yang datang ke gereja tetapi sedang memikul pergumulan berat. Ada orang yang membutuhkan pertolongan, tetapi tidak tahu kepada siapa harus meminta.
Pertanyaannya adalah:
Apakah kita hanya akan melihat dan lewat seperti imam dan orang Lewi?
Ataukah kita mau menjadi seperti orang Samaria yang murah hati?
Hari ini Yesus berkata kepada kita:
“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Mari kita mengasihi Tuhan dengan seluruh hidup kita. Dan biarlah kasih kepada Tuhan itu nyata melalui kasih kita kepada sesama manusia.
Jangan hanya berkata:
“Saya mengasihi Tuhan.”
Tetapi tunjukkanlah kasih itu melalui kehidupan kita.
Karena kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Kiranya jemaat Tuhan menjadi jemaat yang bukan hanya mendengar firman, tetapi juga melakukan firman; bukan hanya berbicara tentang kasih, tetapi menjadi alat kasih Tuhan bagi orang-orang di sekitar kita.
Amin.


Post a Comment