wvsOdYmDaT9SQhoksZrPLG0gYqduIOCNl12L9d9t

Khotbah Minggu 27 September 2026

 

KHOTBAH MAZMUR 25:15–22

Nas: Mazmur 25:15–22
Tema: “Mataku Tetap Terarah kepada Tuhan”

1. Pendahuluan

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Dalam kehidupan ini, ada banyak hal yang dapat membuat mata kita tidak lagi tertuju kepada Tuhan. Ketika keadaan baik, kita mungkin mudah bersyukur. Tetapi ketika masalah datang, ketika doa belum dijawab, ketika ekonomi semakin sulit, ketika keluarga mengalami persoalan, ketika kesehatan terganggu, ketika pelayanan menghadapi tantangan, bahkan ketika kita merasa sendirian, sering kali pandangan kita beralih dari Tuhan kepada masalah.

Ketika masalah semakin besar, kita mulai berkata, “Bagaimana saya bisa menyelesaikan ini?” Ketika masa depan tidak jelas, kita mulai takut. Ketika menghadapi kegagalan, kita mulai merasa bahwa Tuhan jauh. Padahal, sering kali bukan Tuhan yang jauh dari kita, tetapi mata kita yang tidak lagi tertuju kepada-Nya.

Mazmur 25:15 berkata:

“Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring.”

Ayat ini sangat indah. Daud tidak mengatakan bahwa hidupnya bebas dari masalah. Justru ia sedang berada dalam pergumulan. Ia menghadapi kesesakan, kesepian, penderitaan, kesalahan masa lalu, dan ancaman dari orang-orang yang membencinya. Namun di tengah semua keadaan itu, Daud berkata bahwa matanya tetap terarah kepada Tuhan.

Inilah iman yang perlu kita miliki. Percaya kepada Tuhan bukan berarti tidak mempunyai masalah. Percaya kepada Tuhan berarti tetap memandang Tuhan sekalipun masalah masih ada.

Tema kita hari ini adalah: “Mataku Tetap Terarah kepada Tuhan.”

Artinya, dalam keadaan apa pun, kita tidak membiarkan masalah menjadi pusat hidup kita. Tuhanlah yang menjadi pusat perhatian, pengharapan, dan kekuatan kita.

2. Latar Belakang Kitab Mazmur 25

Mazmur 25 merupakan salah satu mazmur yang berbentuk doa pribadi kepada Tuhan. Mazmur ini secara tradisional dikaitkan dengan Daud. Isinya memperlihatkan seseorang yang sedang datang kepada Tuhan membawa berbagai pergumulan hidupnya.

Daud berada dalam keadaan yang tidak mudah. Ia mengalami kesesakan, merasa kesepian, menghadapi musuh, dan juga menyadari kesalahan-kesalahannya di hadapan Tuhan. Karena itu, Mazmur 25 bukanlah doa dari seseorang yang hidupnya tanpa masalah. Sebaliknya, ini adalah doa seseorang yang sedang mengalami persoalan tetapi memilih datang kepada Tuhan.

Hal yang menarik ialah Daud tidak hanya meminta Tuhan menyelesaikan masalahnya. Ia juga meminta Tuhan mengajar dia jalan-Nya, mengampuni kesalahannya, membimbingnya, dan menunjukkan kasih setia-Nya.

Pada bagian ayat 15–22, kita melihat bahwa Daud semakin sungguh-sungguh menyampaikan isi hatinya kepada Tuhan.

Ayat 15

“Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring.”

Daud menyadari bahwa hidupnya seperti seseorang yang terjebak dalam jaring. Ada persoalan yang membuatnya sulit bergerak. Tetapi ia tidak memusatkan pandangan kepada jaring itu. Ia memandang Tuhan.

Di sinilah kita belajar bahwa arah pandangan menentukan arah kehidupan.

Kalau mata kita hanya tertuju kepada masalah, kita akan terus hidup dalam ketakutan. Kalau mata kita tertuju kepada manusia, kita akan mudah kecewa. Tetapi kalau mata kita tertuju kepada Tuhan, kita memperoleh kekuatan untuk tetap berjalan.

Ayat 16–17

Daud berkata bahwa ia merasa sebatang kara dan tertindas. Ia meminta Tuhan berpaling kepadanya dan memperhatikan kesusahannya.

Ini menunjukkan bahwa orang percaya pun dapat mengalami kesepian.

Kadang-kadang kita berada di tengah banyak orang, tetapi hati kita merasa sendirian. Ada persoalan yang tidak dapat kita ceritakan kepada siapa pun. Ada air mata yang hanya Tuhan yang tahu.

Tetapi Daud belajar bahwa ketika manusia tidak mengerti dirinya, Tuhan tetap mengetahui isi hatinya.

Karena itu, ketika kita merasa sendirian, jangan menjauh dari Tuhan. Justru datanglah lebih dekat kepada-Nya.

Ayat 18–19

Daud meminta agar Tuhan melihat kesengsaraan dan kesukarannya serta mengampuni segala dosanya. Ia juga meminta perlindungan dari banyak musuh yang membencinya.

Di sini kita melihat bahwa Daud tidak hanya berbicara tentang musuh dari luar, tetapi juga tentang persoalan di dalam dirinya sendiri.

Kadang-kadang pergumulan terbesar bukan hanya keadaan di sekitar kita, tetapi juga hati kita sendiri: rasa bersalah, penyesalan, ketakutan, kepahitan, dan dosa yang belum kita serahkan kepada Tuhan.

Daud datang dengan jujur kepada Tuhan.

Ini mengajarkan kepada kita bahwa doa bukan tempat untuk berpura-pura menjadi kuat. Doa adalah tempat untuk membuka hati di hadapan Tuhan.

Ayat 20–21

Daud berkata:

“Jagalah kiranya jiwaku dan lepaskanlah aku; janganlah aku mendapat malu, sebab aku berlindung kepada-Mu.”

Daud tahu bahwa satu-satunya tempat perlindungan yang aman adalah Tuhan.

Kemudian ia berkata bahwa ketulusan dan kejujuran kiranya menjaga dia.

Artinya, di tengah tekanan hidup, Daud tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia tetap ingin hidup dalam ketulusan di hadapan Tuhan.

Ini penting bagi jemaat. Kadang-kadang ketika kita disakiti, kita ingin membalas. Ketika difitnah, kita ingin membalas fitnah. Ketika diperlakukan tidak adil, kita ingin melakukan hal yang sama.

Tetapi orang yang matanya tetap terarah kepada Tuhan akan berkata, “Tuhan, Engkau melihat semuanya. Aku serahkan hidupku kepada-Mu.”

Ayat 22

Daud menutup bagian ini dengan permohonan:

“Bebaskanlah Israel, ya Allah, dari segala kesesakannya!”

Perhatikan bahwa Daud tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Setelah membawa pergumulannya kepada Tuhan, ia juga mengingat umat Tuhan.

Ini menunjukkan bahwa pengalaman bersama Tuhan tidak berhenti pada diri sendiri. Orang yang telah menerima pertolongan Tuhan juga dipanggil menjadi pendoa bagi orang lain.

3. Refleksi Jemaat

Saudara-saudari yang terkasih,

Mazmur 25:15–22 sangat dekat dengan kehidupan kita. Setiap jemaat pasti memiliki pergumulan masing-masing.

Ada yang sedang bergumul dengan ekonomi.

Ada yang sedang berjuang mencari pekerjaan.

Ada yang sedang memikirkan masa depan anak-anak.

Ada yang sedang menghadapi persoalan rumah tangga.

Ada yang sedang mengalami sakit.

Ada yang sedang menghadapi konflik dengan orang lain.

Ada juga yang sedang bergumul dalam pelayanan.

Bahkan mungkin ada yang datang beribadah hari ini dengan senyum di wajah, tetapi di dalam hatinya sedang menangis.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: jangan biarkan pergumulan membuat mata kita berpaling dari Tuhan.

Pertama, ketika masalah besar, tetap arahkan mata kepada Tuhan.

Masalah sering kali kelihatan lebih besar daripada kekuatan kita. Tetapi jangan lupa, masalah kita tidak pernah lebih besar daripada Tuhan.

Daud melihat dirinya seperti kaki yang terjebak dalam jaring. Namun ia berkata bahwa matanya tetap terarah kepada Tuhan.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, mungkin hari ini kita tidak tahu bagaimana jalan keluar dari masalah kita. Tidak apa-apa.

Kita tidak harus mengetahui seluruh jalan di depan kita. Kita hanya perlu memastikan bahwa mata kita tertuju kepada Tuhan yang memegang jalan hidup kita.

Kedua, ketika merasa sendirian, ingat bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita.

Ada saatnya tidak seorang pun memahami apa yang kita rasakan. Teman mungkin tidak mengerti. Keluarga mungkin tidak mengerti. Bahkan orang-orang yang dekat dengan kita pun kadang tidak mengetahui pergumulan yang kita simpan.

Tetapi Tuhan mengetahui.

Tuhan melihat air mata yang kita sembunyikan.

Tuhan mendengar doa yang hanya terucap dalam hati.

Tuhan mengetahui ketakutan yang tidak dapat kita jelaskan kepada orang lain.

Karena itu, ketika kita merasa sendirian, jangan berkata, “Tuhan tidak peduli kepada saya.”

Sebaliknya katakanlah:

“Tuhan, aku mungkin tidak mengerti jalan-Mu, tetapi mataku tetap terarah kepada-Mu.”

Ketiga, ketika kita jatuh dalam kesalahan, tetap datang kepada Tuhan.

Daud menyadari dosa dan kesalahannya. Namun ia tidak melarikan diri dari Tuhan. Ia justru datang kepada Tuhan dan meminta pengampunan.

Ini menjadi penghiburan bagi kita.

Kesalahan masa lalu tidak harus menjadi alasan untuk menjauh dari Tuhan.

Kegagalan tidak harus menjadi akhir hidup kita.

Dosa harus diakui, ditinggalkan, dan dibawa kepada Tuhan.

Tuhan bukan hanya Tuhan yang melihat kesalahan kita. Ia juga Tuhan yang sanggup mengampuni dan memulihkan.

Keempat, jangan mengukur masa depan hanya berdasarkan keadaan sekarang.

Kadang-kadang kita melihat kehidupan berdasarkan apa yang sedang kita alami hari ini.

Hari ini sulit, lalu kita berpikir besok juga pasti sulit.

Hari ini gagal, lalu kita berpikir selamanya akan gagal.

Hari ini menangis, lalu kita merasa tidak akan pernah tersenyum lagi.

Tetapi iman mengajarkan bahwa keadaan hari ini bukanlah akhir dari cerita Tuhan.

Daud berkata bahwa matanya tetap terarah kepada Tuhan sebab Tuhanlah yang akan mengeluarkan kakinya dari jaring.

Jadi mungkin hari ini kita masih berada dalam “jaring” pergumulan, tetapi kita percaya bahwa Tuhan sanggup melepaskan kita.

4. Penutup

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Mazmur 25:15–22 mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan orang percaya bukan kehidupan tanpa pergumulan. Daud juga mengalami kesesakan, kesepian, dosa, tekanan, dan ancaman.

Tetapi di tengah semuanya itu, Daud mempunyai satu sikap:

“Mataku tetap terarah kepada TUHAN.”

Itulah yang harus menjadi sikap kita sebagai jemaat Tuhan.

Ketika hidup terasa berat, tetap arahkan mata kepada Tuhan.

Ketika doa belum dijawab, tetap arahkan mata kepada Tuhan.

Ketika manusia mengecewakan kita, tetap arahkan mata kepada Tuhan.

Ketika kita gagal, tetap arahkan mata kepada Tuhan.

Ketika masa depan belum jelas, tetap arahkan mata kepada Tuhan.

Sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi kita tahu siapa yang memegang hari esok.

Karena itu, jangan biarkan pergumulan mengalihkan pandangan kita dari Tuhan.

Mari kita katakan dalam hati:

“Tuhan, mungkin jalanku penuh dengan pergumulan, tetapi mataku tetap terarah kepada-Mu.”

Post a Comment

silakan Komentar dengan baik
Total Pageviews
Times/ Waktu
Waktu di Kota Medan: